PT PAL Indonesia memperkuat sinergi dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) untuk mendorong kemandirian industri perkapalan nasional. Kolaborasi ini sejalan dengan arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam pemenuhan armada nasional secara terintegrasi dan berkelanjutan, dengan menitikberatkan pada kepastian standar, efisiensi rantai pasok, serta optimalisasi kapasitas industri domestik.
Sinergi tersebut dituangkan secara formal melalui penandatanganan Strategic Charter dalam Forum Diskusi Strategis Industri Maritim yang digelar PT PAL Indonesia di Jakarta, Kamis (5/2). Forum ini menjadi ruang konsolidasi pelaku galangan kapal, lembaga klasifikasi, dan industri hulu untuk menyepakati penguatan standar, integrasi rantai pasok, serta peningkatan kapabilitas industri perkapalan nasional.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, mengatakan kerja sama PT PAL dengan Krakatau Steel dan BKI telah menghasilkan berbagai produk kapal yang memenuhi standar internasional, baik dari sisi desain, material, maupun keselamatan. “Ini membuktikan industri nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan armada dalam negeri, tetapi juga menghasilkan kapal berstandar internasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, penugasan pemesanan kapal dalam negeri melalui PT PAL perlu dimaknai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan industri sekaligus meningkatkan kualitas galangan nasional. Dalam skema tersebut, PT PAL diposisikan bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai orkestrator yang mendistribusikan proyek serta mentransfer standar kualitas, teknologi, dan manajemen. “Dengan begitu, galangan nasional dapat naik kelas dan memenuhi kebutuhan pasar domestik,” kata Kaharuddin.
Penguatan industri perkapalan nasional tersebut juga ditopang kesiapan sektor hulu. Ketersediaan rantai pasok domestik, khususnya industri baja, menjadi faktor penting untuk menjamin keberlanjutan pembangunan kapal di dalam negeri. PT Krakatau Steel [Persero] Tbk menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan tersebut dengan kapasitas produksi pelat baja nasional sekitar 1,5 juta ton per tahun.
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio PT Krakatau Steel, Hernowo, mengatakan pembangunan kapal di dalam negeri tidak hanya memperkuat industri perkapalan, tetapi juga mendorong peningkatan kapabilitas industri baja nasional serta mengurangi ketergantungan pada material impor. “Pembangunan kapal di dalam negeri sekaligus menjadi pengungkit substitusi impor,” ujarnya.
Dari sisi standar dan keselamatan, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) menegaskan komitmennya dalam mendukung standarisasi kapal dan komponen sebagai Badan Klasifikasi Nasional. BKI mendorong penerapan standar nasional yang selaras dengan praktik internasional guna memperkuat daya saing industri perkapalan dan menopang pembangunan ekosistem maritim yang berkelanjutan.
Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, kebutuhan riil armada menjadi penentu keberlanjutan konsolidasi industri tersebut. Direktur Armada Logistik PT Pertamina Patra Niaga, Arif Yunianto, menyampaikan bahwa pada periode 2026–2028 dibutuhkan peremajaan kapal untuk mendukung ketahanan energi nasional. Kebutuhan itu dapat dipenuhi melalui skema new build, long-term time charter (LTTC), maupun pembelian kapal second-hand.
“Kolaborasi antara galangan, lembaga klasifikasi, dan industri hulu menjadi kunci agar kebutuhan armada nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan kualitas yang terjamin,” kata Arif.
Sebagai informasi, PT PAL Indonesia mendapat mandat untuk memimpin konsolidasi galangan kapal nasional sebagai tindak lanjut kebijakan pemerintah yang mewajibkan BUMN memesan kapal di galangan dalam negeri. Selain memperkuat sinergi dengan galangan nasional, PT PAL juga membangun kerja sama dengan industri pendukung untuk membentuk ekosistem industri maritim yang terintegrasi.
Tentang PT PAL Indonesia: PT PAL Indonesia merupakan perusahaan manufaktur bidang maritim terbesar di Indonesia. Kami memiliki keunggulan bisnis pada kapabilitas rancang (desain) bangun kapal perang, kapal niaga, dan rekayasa umum (general engineering). Selain itu, kami juga terbilang andal dalam pemeliharaan & perbaikan (harkan) serta overhaul produk-produk maritim baik kapal perang, kapal selam, kapal niaga, serta general engineering produk energi dan elektrifikasi.
















