Tak hanya ekspresi budaya, ITDC pun ingin agar kegiatan beribadah bagi masyarakat sekitar The Mandalika bisa terjamin, serta mencerminkan kearifan lokal dan nilai yang luhur. Salah satu bentuk dari upaya ini adalah dengan membangun Masjid Nurul Bilad.
Masjid Nurul Bilad di The Mandalika, masjid ikonik ini sanggup menampung lebih dari 4.000 jemaah dan dibangun di atas lahan seluas 8 hektar. Masjid Nurul Bilad dinobatkan sebagai masjid terbesar kedua di NTB.
Desain Masjid Nurul Bilad terinspirasi dari Masjid Kuno Bayan Beleq di Lombok Utara, yaitu berupa bangunan persegi dengan atap berbentuk limas yang mengadopsi bentuk rumah adat Sasak yang melambangkan keharmonisan dan toleransi antar umat beragama. Jadi diharapkan Masjid Nurul Bilad dapat mempererat tali persaudaraan antar umat beragama karena tidak hanya antar umat muslim saja, melainkan umat beragama lain seperti para wisatawan yang non muslim datang mengunjungi Masjid ini.
Masjid Kuno Bayan Beleq, yaitu salah satu masjid tertua di Lombok, dibangun oleh Syeh Gaus Abdul Razak, seorang penyebar agama Islam di Bayan. Atap limas masjid ini terbuat dari anyaman daun kelapa dan berhiaskan ikan dan burung di ujung pilar-pilarnya, yang mencerminkan penghidupan masyarakat Sasak pada abad ke-16. Tampilan limas ini menjadi dasar desain Masjid Nurul Bilad.
Nurul Bilad yang berarti Cahaya Bangsa-Bangsa, menjadi prioritas pembangunan, sebelum membangun infrastruktur lain di kawasan. Kami ingin Masjid Nurul Bilad menjadi orientasi dan cermin nilai-nilai masyarakat Sasak. Keberadaannya di The Mandalika sebagai Cahaya Bangsa-Bangsa juga menjadi harapan agar pariwisata Lombok bisa terdengar di seantero dunia!














