Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, mengungkapkan bahwa pendapatan perseroan tumbuh 0,4% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$955 juta. Raihan ini selaras dengan volume penjualan baja yang turut meningkat sebesar 29% YoY menjadi 945.000 ton sepanjang 2025.
“Dari sisi ekuitas kami tumbuh 99,4% dibanding 2024 dengan nilai kurang lebih US$868 juta.Tentu upaya-upaya yang sudah kita lakukan dengan melakukan program efisiensi yang sangat masif,” ujarnya dalam rapat kerja dan rapat dengan pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Adapun lonjakan ekuitas KRAS linear dengan dukungan pendanaan yang diterima dari PT Danantara Asset Management (Persero) atau DAM, selaku holding operasional badan pengelola investasi Danantara Indonesia.
Berdasarkan keterbukaan informasi, perseroan telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham dengan nilai maksimal mencapai Rp4,93 triliun atau setara US$295 juta pada akhir 2025.
Dana itu dialokasikan secara strategis untuk dua kebutuhan utama. Pertama, sebesar Rp4,18 triliun digunakan sebagai modal kerja operasional untuk pembelian bahan baku pabrik Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolled Coil (CRM).
Kedua, sebesar Rp752,8 miliar untuk mendanai program efisiensi karyawan melalui skema golden handshake serta penyehatan dana pensiun perseroan.
Meski menunjukkan tren pemulihan yang cenderung kuat, Akbar menyampaikan bahwa tantangan industri baja nasional masih berat akibat gempuran produk impor murah, terutama dari China.
Saat ini, tingkat utilisasi kapasitas industri baja nasional tercatat masih berada di bawah 60%. Sementara itu, potensi impor baja untuk kebutuhan nasional diperkirakan mencapai nilai hampir Rp80 triliun per tahun.
“Ini tidak lain banyak faktor diisi oleh produk-produk baja murah dari China. Setelah kami hitung, lebih potensi daripada impor Indonesia dari kebutuhan baja kurang lebih hampir mencapai Rp80 triliun per tahun,” tuturnya.
Ke depan, KRAS membidik posisi sebagai penyedia layanan satu pintu (one stop service) untuk pemenuhan kebutuhan baja di Proyek Strategis Nasional (PSN).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















