Achdiat Karta Mihardja, yang lebih dikenal dengan nama pena singkatnya Achdiat K. Mihardja, adalah seorang sastrawan dan penulis Indonesia.
Kumpulan cerpennya, Keretakan dan Ketegangan (1956) mendapat Penghargaan Sastra BMKN tahun 1957 dan novelnya, Atheis (1949) memperoleh Penghargaan Tahunan Pemerintah RI tahun 1969 (R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972) dan Sjumandjaja mengangkatnya pula ke layar lebar pada tahun 1974 dengan judul yang sama, yaitu Atheis.
Beberapa buku studi mengenai karya Achdiat juga telah diterbitkan, antara lain oleh Boen S. Oemarjati yang menerbitkan Roman Atheis: Sebuah Pembicaraan (1962) dan Subagio Sastrowardoyo yang menulis artikel “Pendekatan kepada Roman Atheis” dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983).
Pada tahun 1961, ia menjadi guru besar sastra dan bahasa Indonesia di Universitas Nasional Australia atas undangan universitas tersebut. Dia akhirnya memilih untuk menetap di Canberra di Australia pada 1960-an di mana dia tinggal selama lebih dari 40 tahun. Namun, ia terus mendapat pengakuan atas karyanya di Indonesia. Ia dianugerahi penghargaan seni Indonesia pada tahun 1971.
Kunjungan terakhirnya ke Indonesia adalah pada bulan Juni 2005. Kunjungan tersebut untuk mempromosikan rilis Manifesto Khalifatullah, sebuah novel lanjutan dari Atheis yang mulai dijual pada tanggal 7 Juni 2005. Ia menggambarkan novel tersebut sebagai jawaban atas isu-isu yang diangkat dalam Atheis dan pesan utamanya adalah bahwa “Tuhan menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di bumi, bukan wakil Setan.” Pada tahun 2009 ia menyatakan minatnya untuk menulis otobiografinya, tetapi ia tidak dapat menyelesaikan pekerjaan ini.













