PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menuai berkah dari ekspansi jaringan 5G yang dilakukan operator seluler seperti Telkomsel, Indosat, dan XLSMART. Karakteristik 5G yang butuh kerapatan, membuat operator memasang perangkat baru.
Corporate Secretary Mitratel, Hendra Purnama, mengungkapkan pertumbuhan jumlah tenant tahun ini didorong kuat oleh strategi modernisasi perangkat secara selektif, terutama pada area dengan trafik data tinggi.
Selain itu, ekspansi jaringan ke wilayah luar Jawa menjadi katalisator utama yang meningkatkan permintaan ruang kolokasi pada menara milik emiten berkode saham MTEL tersebut.
Hendra menepis anggapan para operator hanya melakukan penggantian perangkat lama atau swap yang tidak menambah jumlah penyewa. Karakteristik spektrum 5G yang memerlukan cakupan lebih rapat justru memaksa operator untuk menambah titik-titik baru guna menjaga kualitas layanan.
“Operator secara aktif menambah titik-titik kolokasi baru untuk memastikan kualitas layanan dan kapasitas data tetap terjaga,” ujar Hendra kepada Bisnis, Selasa (7/4/2026).
Untuk diketahui, spektrum frekuensi 5G jauh lebih tinggi daripada 4G. Makin tinggi frekuensinya, makin pendek jarak jangkauannya. Maka, agar pesan di jaringan 5G dapat terus tersambung, dibutuhkan banyak tower (site) yang berdiri berdekatan untuk mengoper pesan tersebut.
Penggelaran 5G oleh operator seluler pun meningkat pesat pada 2025. XLSMART mengoperasikan 4.864 BTS 5G untuk melayani 33 kota. Dengan tambahan kota hampir tiga kali lipat, Jumlah BTS 5G XLSMART berpotensi meningkat dua kali lipat sehingga ditaksir menjadi 9.000-10.000 BTS hingga akhir 2026 seiring dengan target perusahaan menjangkau 88 kota.
Sementara itu Telkomsel mencatat lonjakan signifikan sekitar 975 unit base transceiver station (BTS) atau pemancar perangkat pemancar internet menjadi sekitar 5.300 unit BTS. Artinya, dalam setahun jumlah BTS 5G Telkomsel naik hampir 5 kali lipat.
Indosat mengoperasikan 6.872 unit Base Transceiver Station (BTS) 5G sepanjang 2025. Jumlah itu meningkat tajam dari 2024 yang hanya tercatat 107 unit BTS 5G. Indosat menjadi operator seluler dengan jumlah BTS 5G terbanyak pada 2025.
Sejalan dengan itu, jumlah penyewa di Mitratel juga tumbuh 7,4% year on year/YoY pada 2025 menjadi 61.343 penyewa. Rasio penyewa (tenancy ratio) Mitratel naik menjadi 1,57x dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar 1,51x.
Hendra mengatakan dalam dinamika 5G yang butuh site rapat, Mitratel mengandalkan keunggulan kompetitif berupa portofolio menara terbesar dengan sebaran paling luas di Tanah Air. Posisi ini menjadikan perseroan sebagai mitra strategis utama bagi operator dalam mengeksekusi rencana ekspansi maupun densifikasi jaringan secara efektif.
Selain penguatan infrastruktur fisik, Mitratel mulai mengimplementasikan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk optimasi operasional. Langkah strategis tersebut merupakan bentuk komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah serta jaminan keandalan infrastruktur bagi para pelanggan.
Sistem operasional yang didukung AI memungkinkan Mitratel melakukan pemeliharaan secara prediktif dan memastikan uptime maksimal. Hendra meyakini keandalan berbasis teknologi ini menjadi faktor pembeda (competitive advantage) yang krusial di pasar menara telekomunikasi.
“Keandalan ini memberikan keyakinan bagi operator setiap jaringan mereka didukung oleh infrastruktur yang paling andal dan stabil,” pungkasnya.
Dengan kombinasi aset fisik yang luas dan efisiensi berbasis teknologi, Mitratel optimistis mampu menangkap peluang besar dari kebutuhan kapasitas data yang terus melonjak, sekaligus memperkuat dominasi pasar sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terdepan di Indonesia.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















