PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Group melalui PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (CTP) tengah bersiap melakukan integrasi tarif tol demi efisiensi biaya logistik.
Untuk diketahui, Pelindo Group merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) pemegang hak konsesi Jalan Tol Cibitung—Cilincing (JTCC) yang memiliki panjang 34 km.
Rute ini menghubungkan kawasan industri di Timur Jakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini, JTCC menjadi bagian dari Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR2).
“Ke depan, bakal ada integrasi tarif, rest area dan logistic hub yang makin proper, sampai akses langsung ke Terminal Kalibaru. Semua dirancang biar arus barang makin lancar dan daya saing logistik Indonesia makin kuat,” tulis CTP melalui unggahan Instagram @ctp.tollways, dikutip pada Senin (23/2/2026).
Keberadaan JTCC berperan strategis dalam sistem logistik nasional, penghubung utama antara kawasan industri di Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sekitarnya dengan Pelabuhan Tanjung Priok.
CTP menegaskan bahwa integrasi jalur koridor logistik menjadi kunci dalam menciptakan sistem jalur logistik yang terhubung secara strategis antarkawasan industri, pusat distribusi, dan pelabuhan.
“Integrasi jalur koridor logistik diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dan biaya logistik secara signifikan,” tambahnya.
Melihat tarif tol JTCC saat ini, tarif termurah yakni Rp13.000 untuk kendaraan golongan IV & V—umumnya jangkauan barang atau truk—dari Cibitung ke Telaga Asih.
Sementara truk-truk yang akan menuju pelabuhan dari Cibitung harus mengeluarkan kocek lebih dalam hingga Rp139.000 untuk keluar di Marunda dan menuju Priok.
Kendaraan pribadi golongan I bahkan harus mengeluarkan kocek Rp69.500 untuk rute yang sama melalui JTCC.
Sebelumnya pun pelaku usaha logistik memang mengeluhkan mahalnya tarif tol yang menjadi beban biaya operasional.
Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyampaikan, ongkos tol untuk truk maupun kendaraan besar menjadi yang tertinggi.
Kondisi tersebut lantas mendorong hadirnya kendaraan obesitas alias ODOL, sebagai cara pelaku usaha menekan biaya. Tak jarang pula perusahaan atau sopir truk lebih memilih jalan nasional biasa ketimbang tol.
ALI mengungkapkan, meskipun jalan tol di Indonesia telah berkembang pesat, tetapi masih belum menjadi opsi utama bagi sebagian besar pengusaha logistik/transportasi sebagai jalur distribusi harian.
Keputusan ini didorong oleh beberapa faktor krusial yang membuat penggunaan jalan tol dianggap tidak efisien bagi arus barang, terutama dalam konteks tarif Tol yang membebani biaya operasional perusahaan. Penggunaan jalan tol dinilai belum mampu secara efektif menurunkan total biaya logistik.
Pada beberapa rute, total Biaya Operasional Kendaraan (BOK) melalui jalan tol lebih tinggi dibandingkan jalur non-tol karena adanya beberapa dampak yang terjadi.
Antara lain, meningkatnya biaya perawatan rutin (spare parts cepat haus), biaya lebih tinggi di tempat peristirahatan/rest area bagi supir, sementara penghematan waktu yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya tersebut.
“Kami disuruh menurunkan biaya logistik, tetapi BUMN infrastruktur jalan tol itu menerapkan tarif untuk logistik paling tinggi, bagaimana ini?” ujarnya beberapa waktu lalu.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















