PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas bersama Danantara menjalin kolaborasi dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) untuk mengembangkan ekosistem logam tanah jarang.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Senin (16/2/2026) yang mencakup evaluasi potensi sumber daya niobium dan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon, sekaligus inisiatif hilirisasi di Indonesia.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan fase pertumbuhan industri nasional berikutnya memerlukan akses kuat terhadap input strategis, serta kemampuan mengonversinya menjadi produk hilir yang kompetitif.
“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan,” ujar Rosan dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).
Melalui kemitraan ini, Indonesia diproyeksikan berperan sebagai platform pemrosesan hilir, manufaktur, dan integrasi industri. Kolaborasi tersebut mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari pemisahan, pemurnian, produksi logam, hingga manufaktur magnet permanen berkinerja tinggi.
Direktur Utama Perminas Gilarsi Wahju Setijono menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong tujuan strategis industrialisasi hilir.
“MoU ini menciptakan jalur terstruktur untuk menghubungkan potensi hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat,” tuturnya.
Material strategis seperti niobium (Nb) serta logam tanah jarang seperti neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr) disebut sebagai komponen kunci untuk produksi magnet permanen. Material ini esensial bagi industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), turbin angin, hingga aplikasi pertahanan tingkat lanjut.
Adapun untuk mempercepat realisasi proyek, para pihak telah membentuk Joint Working Group. Selain aspek teknis, negosiasi jalur cepat terkait potensi pembiayaan dan investasi strategis juga akan dimulai.
Sementara itu, Danantara dan Perminas membuka peluang partisipasi ekuitas maupun utang pada tambang Maboumine dan entitas proyek terkait guna menangkap manfaat penuh dari integrasi vertikal ini.
Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto menambahkan bahwa kerja sama turut menandai fase baru keterlibatan Indonesia di pasar mineral kritis global. Kerja sama dengan NEM dianggap sebagai bukti meningkatnya kepercayaan mitra internasional terhadap kapasitas industri tanah air.
“Melalui kemitraan ini, Indonesia bertujuan mendorong pengembangan industri dalam negeri, sekaligus memperkuat partisipasinya dalam pasar mineral kritis global,” kata Brian Yuliarto.
Di sisi lain, President New Energy Metals Holdings Ltd Abduljabbar Alsayegh juga mengapresiasi visi Indonesia dalam memajukan rantai nilai mineral kritis. Menurutnya, agenda tersebut semakin penting bagi transisi energi global dan kepemimpinan teknologi di masa depan.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















