Berdasarkan keterangan resmi perseroan, proyek tersebut berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dan dijalankan melalui skema kerja sama operasi (KSO) bersama PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) serta PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA).
Adapun ruang lingkup pekerjaan meliputi jasa penambangan bauksit, pengangkutan material, hingga penyediaan dan pengoperasian washing plant. Kegiatan penggalian awal (first cut) dijadwalkan dimulai pada awal kuartal II/2026.
Direktur Utama PPRE Rizki Dianugrah mengatakan perolehan kontrak ini mencerminkan kepercayaan terhadap kapabilitas operasional dan rekam jejak perseroan dalam mengelola proyek tambang.
“Ekspansi PPRE pada proyek pertambangan bauksit ini tidak hanya menegaskan kapabilitas PPRE sebagai penyedia jasa penambangan yang profesional dan terintegrasi, tetapi juga menjadi implementasi dari strategi perusahaan dalam melakukan diversifikasi layanan jasa penambangan di luar mineral nikel yakni bauksit,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).
Selain itu, kerja sama dengan ANTM juga mencerminkan sinergi antar-BUMN dalam mendukung pengembangan sektor pertambangan nasional.
Rizki menambahkan, dengan dukungan tim berpengalaman, armada alat berat, serta penerapan standar keselamatan dan lingkungan yang tinggi, perseroan optimistis mampu memberikan kinerja optimal pada proyek tersebut.
Sejalan dengan program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah, proyek ini juga menjadi bagian dari strategi PPRE dalam menjaga pertumbuhan kinerja berkelanjutan sekaligus memperkuat fundamental bisnis.
Melalui tambahan kontrak baru ini, PPRE memperluas portofolio jasa penambangan di luar komoditas nikel dan memperkuat posisinya sebagai penyedia jasa pertambangan terintegrasi di Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn













