“Kita juga dalam waktu berapa minggu ini kita akan mulai, kita harapkan minimal enam proyek hilirisasi, mungkin bisa sampai 11. Nilainya adalah kurang lebih US$6 miliar,” ujar Prabowo saat meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
Selain investasi dalam negeri, Presiden menyebut Indonesia juga akan menerima arus investasi besar dari luar negeri. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola agar proyek-proyek strategis tersebut berjalan optimal.
“Kita untuk itu harus benar-benar siapkan awak, siapkan manajemen, siapkan manajer-manajer muda yang bisa menjaga, mengelola proyek-proyek ini,” tegasnya.
Prabowo mengakui bahwa proses menuju industrialisasi yang matang membutuhkan waktu panjang, bahkan bisa mencapai 10 hingga 15 tahun, atau hingga 20 tahun. Namun, pemerintah bertekad untuk mempercepat tahapan tersebut demi memperkuat fondasi ekonomi nasional.
“Total kita butuh sampai industrialisasi yang benar mungkin rencananya 10 tahun sampai 15–20 tahun. Tapi kita ingin mempercepat,” katanya.
Kepala negara mengaku bahwa pemerintah menargetkan proyek hilirisasi dapat mendorong nilai tambah sumber daya alam, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, dia menyatakan optimisme terhadap keberlanjutan agenda hilirisasi nasional yang menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi pemerintahannya. Meski demikian, Prabowo menegaskan dirinya tidak ingin mengumbar janji berlebihan kepada publik.
“Saya sangat optimis ini bisa berjalan. Saya orang yang tidak suka banyak janji, sehingga mungkin saya dituduh kurang komunikatif,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















