Danantara Indonesia mengonfirmasi rencana divestasi terhadap sejumlah unit bisnis non-inti (non-core) BUMN di berbagai sektor, mulai dari produsen motor listrik Gesits hingga unit bisnis jasa perjalanan.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menjelaskan divestasi dilakukan terhadap entitas bisnis yang dinilai tidak sejalan dengan fokus utama Danantara atau memiliki skala usaha yang terlalu kecil untuk dikelola oleh negara. Strategi ini merupakan bagian dari pemetaan ulang portofolio BUMN agar lebih efisien dan kompetitif.
“Kalau itu bisnisnya non-core, kami divestasi, dan banyaknya kita divestasi,” ujar Dony saat ditemui di Jakarta, Selasa (10/2/2026) malam.
Dia mengungkapkan bahwa Danantara telah mengidentifikasi beberapa bisnis yang akan dilepas, termasuk pengelolaan air pada sejumlah BUMN Karya. Sektor tersebut dinilai berada di luar fokus industri konstruksi dan tidak memiliki ukuran pasar atau size yang signifikan bagi pengelolaan pusat.
Langkah serupa akan diterapkan pada Gesits, merek motor listrik yang saat ini berada di bawah ekosistem Indonesia Battery Corporation (IBC) yang menguasai 53,93% saham produsen Gesits, PT Wika Industri Manufaktur (WIMA).
“Gesits ini salah satu yang juga akan kami lakukan divestasi,” pungkas Dony.
Tak hanya sektor manufaktur dan konstruksi, Danantara berencana melepas bisnis agen perjalanan yang berada di bawah naungan PT Pertamina (Persero). Menurutnya, rencana ini sejalan dengan arahan Presiden untuk memfokuskan BUMN hanya pada sektor inti dalam kerangka Indonesia Incorporated.
Dony menyatakan bahwa ke depan BUMN tidak akan lagi masuk ke seluruh lini usaha yang berpotensi menggerus ruang gerak sektor swasta. Dengan fokus pada sektor inti, Danantara berharap dapat memperkuat fundamental perusahaan pelat merah sekaligus menciptakan ekosistem usaha nasional yang lebih sehat.
Di sisi lain, Danantara juga berencana merampingkan portofolio BUMN. Tujuannya, mengerucutkan jumlah entitas menjadi hanya sekitar 300 perusahaan sehingga skala ekonomi signifikan dan daya saing lebih kuat.
Dony menjelaskan penyusutan jumlah perusahaan merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem BUMN yang lebih efisien dan kompetitif secara global.
“Kami harapkan dari 300 perusahaan yang dimiliki BUMN ke depan, itu adalah perusahaan-perusahaan yang secara skala itu cukup signifikan,” ucapnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















