Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan dinamika geopolitik global yang berkembang saat ini menjadi bagian dari tantangan eksternal yang terus dimonitor oleh pelaku pasar, termasuk industri perbankan dan Bank Mandiri.
“Ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi sentimen global, harga energi, dan pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek. Namun demikian, sistem keuangan global dan domestik memiliki pengalaman serta instrumen kebijakan yang semakin matang dalam merespons volatilitas, sehingga ruang stabilisasi tetap terbuka,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (3/3/2026).
Terkait potensi tekanan terhadap likuiditas dan stabilitas pasar keuangan domestik, Bank Mandiri menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Dukungan konsumsi domestik yang resilien, stabilitas sektor keuangan, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi industri perbankan, struktur permodalan, likuiditas, dan kualitas aset yang terjaga disebut menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar dan kesinambungan fungsi intermediasi.
Seiring potensi dampak kenaikan harga energi dan perlambatan ekonomi global terhadap sektor-sektor tertentu, Bank Mandiri menyatakan terus memperkuat manajemen risiko dan tata kelola secara disiplin, termasuk menjaga kualitas portofolio kredit agar tetap sehat.
“Ke depan, Bank Mandiri memandang momentum ini sebagai pengingat untuk terus memperkuat manajemen risiko dan tata kelola secara disiplin, sekaligus menjaga kesiapan likuiditas dan kualitas portofolio,” tegas Adhika.
Sebagaimana diketahui ketegangan yang terjadi di Timur Tengah ditandai dengan rudal Israel dan Amerika Serikat menghantam Iran. Serangan terjadi pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat, yang lebih dulu dilancarkan oleh Israel kemudian disusul Amerika Serikat.
Serangan dilatarbelakangi gagalnya negosiasi Amerika Serikat dengan Iran terkait pengembangan senjata nuklir. Konflik memanas setelah Kapal Abraham Lincoln milik AS dikerahkan untuk bersandar di perairan Iran. Amerika Serikat dan Israel beralasan serangan tersebut dilakukan untuk melindungi keamanan negara dari ancaman Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer ini bertujuan menghancurkan infrastruktur rudal Iran. Dalam pernyataannya yang dikutip dari YouTube resmi The White House, Sabtu (28/2/2026), Trump menegaskan target utama operasi adalah kemampuan persenjataan strategis Iran, termasuk rudal jarak jauh yang dinilai dapat mengancam pangkalan militer AS di luar negeri hingga wilayah Eropa.
“Kami akan menghancurkan senjata-senjata mereka dan meningkatkan industri senjata mereka ke tanah,” kata Trump dalam siaran tersebut.
Di sisi lain, Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel. Kedubes Iran menilai serangan tersebut melanggar integritas teritorial dan kedaulatan Iran serta melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (4) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan merupakan tindakan agresi yang nyata terhadap Republik Islam Iran,” tulis Kedubes Iran dalam keterangan resmi.
Kedubes juga menyatakan Iran menggunakan hak untuk melancarkan serangan balik dengan mengerahkan angkatan bersenjata yang telah disiapkan, sebagai upaya mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















