Kolaborasi ini ditandai dengan pelepasan ekspor perdana bumbu pasta dan makanan siap saji (ready to eat/RTE) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji asal Indonesia di Tanah Suci. Langkah ini diharapkan mampu menjaga efisiensi sekaligus memastikan ketepatan waktu distribusi produk nasional ke pasar global.
Direktur Utama Pos Indonesia, Daud Joseph, menyatakan bahwa peran perusahaan kini bertransformasi melampaui sekadar jasa pengiriman. Pos Indonesia berkomitmen mengawal seluruh rantai pasok (supply chain) agar berjalan optimal dan terintegrasi dari dalam negeri hingga ke titik tujuan di Arab Saudi.
“Kami memastikan proses distribusi berjalan terintegrasi dan tepat waktu, sehingga kebutuhan jemaah dapat terpenuhi dengan baik,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (7/4/2026).
Senada, Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, menegaskan kesiapan maskapai pembawa bendera nasional tersebut dalam mendukung distribusi kargo logistik haji. Sinergi ini merupakan bagian dari upaya GIAA untuk memaksimalkan utilisasi ruang kargo pesawat di tengah momentum musim haji yang padat.
Di sisi regulasi, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Prof. Jaenal Effendi, menekankan pentingnya standar kualitas logistik. Ia memastikan bahwa seluruh produk yang dikirim telah memenuhi kriteria kehalalan, standar kesehatan, serta ketahanan produk yang ketat agar layak dikonsumsi jemaah.
Selain memberikan pelayanan bagi jemaah, kerja sama ini dinilai memiliki dampak strategis bagi penguatan ekonomi nasional. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, menyebutkan bahwa kolaborasi ini membuka pintu bagi produk-produk UMKM lokal untuk menembus pasar internasional melalui ekosistem logistik haji.
“Selain meningkatkan kualitas layanan haji, sinergi ini juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional melalui peningkatan daya saing produk nasional di kancah global,” kata Ferry.
Melalui integrasi layanan antara Pos Indonesia dan Garuda Indonesia, ekosistem haji diharapkan tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi yang lebih efisien dan transparan melalui struktur pendanaan dan tata kelola logistik yang kuat.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















