Luncurkan Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membukukan transaksi hingga Rp 300 miliar di hari pertamanya Senin (9/11). Capaian tersebut sekaligus jadi sinyal positif pasar keuangan akan pengembangan sistem Electronic Trading Platform (ETP) untuk perdagangan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) di pasar sekunder tersebut.
Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengungkapkan, sejak dirilis Senin (9/11) pagi, sebanyak 17 transaksi sudah berlangsung dengan nilai transaksi menyentuh Rp 200 miliar. Bahkan, saat konferensi berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB sebanyak 22 transaksi sudah terjadi dengan nilai tembus di atas Rp 300 miliar.
Hasan menjelaskan, animo yang lebih baik dari pelaku pasar tersebut didukung dengan perkembangan ETP yang lebih baik pada SPPA yang dirilis kali ini. Jika ETP tahap pertama di 2016 hanya sebatas untuk transaksi Surat Berharga Negara (SBN) jenis Obligasi Republik Indonesia (ORI), maka di SPPA transaksi bisa dilakukan untuk perdagangan surat utang apapun dan tanpa batas, termasuk SBN, SBSN (semua seri), juga surat utang perusahaan (corporate bond).
“Selain itu banyak feature efisiensi dan pengawasan yang mempermudah dan mengakomodir dealer dalam bertransaksi,” kata Hasan dalam konferensi pers Senin (9/11).
Dengan memanfaatkan SPPA, Hasan menegaskan kebiasaan tawar menawar atau over the counter (OTC) di market bisa lebih mudah dan transparan. Selain itu, SPPA juga memudahkan dealer dalam melakukan pelaporan khususnya ke Penerima Laporan Transaksi Efek (PLTE).
“PPA saat ini tidak mengenakan fee kepada dealers ataupun investor. Gratis,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo
Laksono menambahkan, meskipun ke depan memungkinkan adanya pengenaan biaya ke para dealers, tapi itu belum masuk ke dalam proyeksi saat ini. “Kami ingin para dealer menggunakan sistem ini sebagai bagian dari pendalaman pasar yang diamanatkan ke BEI,” jelasnya.
Sampai saat ini, terdapat 20 pelaku Pasar EBUS Indonesia yang sudah menjadi Pengguna Jasa SPPA. Sebanyak 17 dealer merupakan dealer utama Surat Utang Negara (SUN), sedangkan tiga lagi merupakan non dealer utama. Dealer tersebut telah menjadi Pengguna Jasa SPPA, serta dapat mulai memanfaatkan SPPA sebagai platform perdagangan EBUS.
Ke depan, masih ada empat dealer yang masih dalam proses menyiapkan administrasi dan teknis. Empat dealer yang masih dalam pipeline tersebut di antaran Bank Negara Indonesia Syariah, Bank Rakyat Indonesia Syariah, Bank Syariah Mandiri dan Deutsche Bank.
“Kemungkinan dalam waktu dekat mereka akan segera bergabung, tahun depan harusnya sudah semua partisipan bergabung,” ungkap Laksono.
Untuk tahun depan, Laksono mengungkapkan pihaknya memasang target pertumbuhan transaksi di PPA mencapai 3% dari total transaksi harian atau sekitar Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,2 triliun. Proyeksinya, total transaksi harian di pasar surat utang Tanah Air 2021 bakal di kisaran Rp 37,48 triliun per hari.
“Harapannya SPPA bisa akomodir 3% tahun depan, mengingat SPPA memberikan informasi yang lebih baik kepada investor atau dealer, khususnya terkait harga dan ini dimonitor lebih baik oleh pemerintah dan unit DJPPR serta banyak diadopsi di beberapa negara,” jelasnya.
Sumber Kontan, edit koranbumn













