Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertahanan global, ketergantungan pada sistem pertahanan asing berpotensi menimbulkan risiko terhadap kedaulatan nasional. Menjawab tantangan tersebut, PT Len Industri (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil langkah strategis dengan menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pengembangan teknologi Night Vision Goggle (NVG) dan Thermal Imaging Devices. Penandatangan dilakukan oleh Prof. Dr. Isnaeni, M.Sc., Kepala Pusat Riset Fotonika BRIN, dan Amalia Maya Fitri, Direktur Teknologi & Manajemen Risiko PT Len Industri (Persero). Kedua teknologi tersebut merupakan sensor optoelektronik krusial yang digunakan dalam operasi malam hari dan kondisi minim cahaya, baik untuk kepentingan pertahanan maupun keamanan nasional. Penguasaan teknologi NVG dan pencitraan termal secara mandiri menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan, kemandirian, dan daya saing sistem pertahanan nasional. Night Vision Goggle (NVG) memungkinkan pengguna melihat dalam kondisi gelap dengan memanfaatkan cahaya minimal atau radiasi inframerah. Teknologi ini memiliki peran vital dalam operasi militer, pengawasan keamanan, serta perlindungan objek dan wilayah strategis, sehingga pengembangan dan produksi dalam negeri menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung kedaulatan pertahanan negara.
Kolaborasi ini menjadi penting karena menyatukan kekuatan riset nasional dengan kapabilitas industri strategis dalam satu ekosistem inovasi terintegrasi. BRIN berperan sebagai pusat unggulan riset dan penguasaan teknologi dasar, sementara Len memiliki pengalaman dan kapasitas dalam rekayasa sistem, industrialisasi, serta integrasi teknologi pertahanan. Sinergi ini memungkinkan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi produk siap pakai yang memenuhi kebutuhan pengguna dalam negeri juga mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat kapasitas nasional di bidang teknologi pertahanan strategis, khususnya pengembangan sensor optoelektronik. Melalui sinergi riset dan industri ini menjadi sebuah peluang besar untuk mempercepat penguasaan teknologi kunci, meningkatkan nilai tambah dalam negeri, serta membangun ekosistem rantai pasok pertahanan yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan responsif terhadap kebutuhan strategis nasional. Amalia Maya Fitri menegaskan bahwa kolaborasi Len dan BRIN merupakan langkah konkret dalam menghadirkan solusi teknologi pertahanan nasional yang andal dan berdaya saing. “Kolaborasi ini penting untuk menghadirkan teknologi penglihatan malam dan pencitraan termal yang andal, kompetitif, dan siap digunakan di dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan serta kemandirian teknologi pertahanan nasional,” ujarnya.
Sebagai nilai tambah strategis, pengembangan NVG dan perangkat pencitraan termal di dalam negeri juga memberikan keuntungan signifikan berupa peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), efisiensi biaya pengadaan dan pemeliharaan, serta jaminan keberlanjutan dukungan teknis sepanjang siklus hidup produk tanpa ketergantungan pada pemasok luar negeri. Dengan kemampuan produksi dan pengembangan nasional, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan operasional TNI dan aparat keamanan secara lebih cepat dan aman, tetapi juga membuka peluang ekspor produk teknologi pertahanan bernilai tinggi, sehingga memperkuat posisi industri pertahanan nasional sebagai pemain kompetitif di pasar regional dan global.
Sumber LEN, edit koranbumn
















