Pembayaran nontunai semakin menjadi tren masyarakat Indonesia baik di perkotaan maupun perdesaan. Uang nontunai dinilai lebih efektif sebagai alat transaksi pembayaran dan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi saat ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi uang elektronik naik dua kali lipat menjadi Rp31,66 triliun sepanjang Januari hingga September 2018 dibandingkan sepanjang 2017.

Penggerak utama pertumbuhan nontunai tersebut antara lain berasal dari pembayaran online dan uang elektronik. Direktur Eksekutif Departemen Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) BI Pungky Purnomo Wibowo mengatakan, BI masih terus berusaha mengupayakan agar masyarakat bertransaksi secara nontunai.

Penerbitan kartu berlogo nasional (kartu GPN) yang dimulai sejak akhir Maret 2018 terdistribusi sebanyak 17,6 juta kartu GPN dalam kurun waktu sembilan bulan dari target akhir tahun 2018 sebanyak 20 juta kartu.

Senior Vice President Transaction Banking and Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi mengatakan, pertumbuhan penggunaan uang elektronik terus meningkat seiring dengan penggunaan transportasi.

Menurutnya, mengenalkan masyarakat untuk membayar dengan uang nontunai diharapkan akan menjadi hal yang positif dan menjadi tren gaya hidup.

Thomas mengungkapkan, nilai transaksi uang elektronik dari Bank Mandiri yang disebut e-money tersebut per Desember 2018 tumbuh senilai Rp13,4 triliun dengan jumlah kartu beredar sebanyak 16,4 juta kartu.

Thomas menjamin penggunaan uang elektronik tidak perlu dikhawatirkan dan diragukan lagi, mengingat penggunaan teknologi pada kartu tersebut cukup aman. Dia mencontohkan penggunaan chip pada kartu seperti yang terdapat pada layanan perbankan lain.

Sumber Bank Mandiri / edit koranbumn.com