Home / Berita / Relief Jejak Penjelajahan Ekspedisi Kapal di Candi Borobudur

Relief Jejak Penjelajahan Ekspedisi Kapal di Candi Borobudur

Terdapat sejumlah bukti sejarah yang menunjukkan bahwa pada awal milenium pertama Masehi, nenek moyang bumiputra telah mengadakan hubungan jarak jauh lewat jalur laut, menyeberangi samudera sampai ke benua Afrika. Jejak-jejak kehadiran budaya Nusantara di Madagaskar dan Afrika Selatan masih dapat ditelusuri keberadaannya disana.

Ahli sejarah Dick-Read (2005) menyatakan bahwa bukti-bukti sejarah menunjukkan ditemukannya jejak-jejak pengelana (phantom voyagers) dari kepulauan nusantara yang telah tiba di bumi Afrika, meskipun tak jelas siapa mereka dan bagaimana mereka bisa sampai ke Madagaskar dan Afrika. Yang juga menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mereka dulu bisa mencapai negeri jauh di seberang samudra itu. Alat transportasi macam apa yang digunakan, bagaimana konstruksinya dan bagaimana sistem navigasinya.

Salah satu petunjuk yang mungkin dapat menjadi kunci adalah gambar relief berupa perahu layar yang terukir di dinding-dinding Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 Maseshi. Di candi ini terdapat lima gambar relief perahu layar yang menunjukkan bahwa pada zaman itu telah dikenal perahu dengan layar ganda dan mempunyai cadik (out rigger) untuk menjaga kesetimbangan perahu. Konstruksi badan perahu cadik tidak berbeda dengan lainnya. Cadik adalah alat pengapung di kanan-kiri perahu yang fungsinya menjaga keseimbangan. Penambahan cadik tersebut, membuat perahu tidak mudah tenggelam akibat hantaman gelombang laut. Ketangguhan perahu cadik sudah terbukti dan diakui hingga saat ini.

Di Candi Borobudur terpahat sebanyak 11 gambar perahu (lihat Th. van Erp 1923). Bentuk-bentuk perahu ini oleh van Erp dibagi menjadi tiga golongan yaitu kano atau sampan sederhana yang dibuat dari sebatang kayu yang dilubangi, kano dengan tambahan dinding papan, tetapi tanpa cadik dan kano namun dengan penambahan cadik. Sementara itu van der Heide mengelompokkan perahu-perahu ini berdasarkan tiang layar dan cadiknya ke dalam lima golongan (lihat van der Heide 1927).

Sumber TWC , edit koranbumn

Check Also

Indonesia Minim Sampah Plastik, IIKK TWC Buka Kegiatan Belajar Pengenalan Sampah Plastik

Ketua Ikatan Istri Karyawan-Karyawati (IIKK) PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *