Emiten pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., berhasil membukukan jumlah penumpang tertinggi selama pandemi Covid-19. Sejalan dengan itu, perseroan memproyeksi jumlah penumpang pulih hingga 50 persen pada 2021.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa perseroan berhasil menunjukan konsistensi pertumbuhan yang positif dengan membukukan jumlah angkutan pada Oktober 2020, yakni sebesar 739 ribu penumpang.
Capaian jumlah penumpang tersebut meningkat signifikan dibandingkan dengan periode awal pandemi dimana Garuda Indonesia Group hanya mengangkut sekitar 30 ribuan penumpang perbulannya. Dia menilai pertumbuhan tersebut turut menandakan semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk kembali menggunakan layanan transportasi udara.
Menurut Irfan, hal itu juga sejalan dengan upaya berkesinambungan perseroan melalui penerapan protokol kesehatan secara konsisten pada seluruh touch point layanan penerbangan Garuda Indonesia guna menghadirkan penerbangan yang aman dan nyaman bagi penumpang.
“Dengan kepercayaan masyarakat yang mulai terbangun untuk kembali menggunakan transportasi udara serta sinergitas stakeholder ekosistem sektor pariwisata, kami memproyeksikan jumlah penumpang pada 2021 dapat kembali pulih setidaknya 50 persen dari sebelum masa pandemi,” ujar Irfan seperti dikutip dari keterangan resminya, Rabu (16/12/2020).
Emiten berkode saham GIAA itu juga optimistis pemulihan kinerja terjadi, khususnya dengan potensi pangsa pasar penerbangan Indonesia yang masih sangat menjanjikan kedepannya.
Selain itu, perseroan juga berhasil mempertahankan konsistensi kinerja bisnis kargo yang tercermin dari jumlah tertinggi angkutan kargo sejak masa pandemi yakni sebesar 21.980 ribu ton, pada Oktober 2020.
Capaian tersebut setara dengan 83 persen dari jumlah angkutan kargo pada masa sebelum pandemi. Dengan capaian tersebut, kata Irfan, bisnis kargo memiliki potensi yang dapat terus dimaksimalkan kedepannya bahkan melebihi capaian angkutan kargo sebelum masa pandemi, khususnya dengan momentum perkembangan industri e-commerce di Indonesia saat ini.
Jelang 2021 mendatang, Garuda Indonesia juga akan terus memperkuat upaya akselerasi pemulihan kinerja Perseroan dengan fokus utama pada penyelarasan strategi melalui optimalisasi pangsa pasar domestik. Pemulihan juga akan ditunjang lini bisnis penunjang seperti kargo udara, umrah dan perluasan portofolio bisnis anak usaha.
Saat ini, Garuda Indonesia Group melalui lini usaha perawatan pesawat GMF Aero Asia tengah memperkuat segmen airframe dan line maintenance melalui rencana perluasan layanan hanggar yang dikembangkan di Denpasar untuk memaksimalkan potensi market di wilayah Indonesia Timur.
Sementara itu, Citilink yang merupakan lini usaha low cost carrier tengah fokus mengoptimalisasikan pangsa pasar rute penerbangan domestik yang didukung oleh feeder pesawat ATR 72 600 yang nantinya akan membuka akses ke wilayah kawasan ekonomi baru di Indonesia. Lebih lanjut, lini usaha Aerofood ACS juga saat ini tengah memperkuat fokus bisnisnya pada sektor produk retail dan industrial catering.
Di sisi lain, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Prasetio mengungkapkan bahwa proses implementasi Obligasi Wajib Konversi (OWK) dengan nilai maksimal Rp8,5 Triliun dan tenor paling lama 7 tahun, saat ini terus dilakukan melalui komunikasi intensif bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
“Perihal rencana tahapan penerbitan OWK tersebut yang kami harapkan dapat segera terealisasi jelang akhir tahun ini, sedangkan restrukturisasi hutang, pada prinsipnya akan dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama kreditur dan mitra kerja, dengan memperhatikan kemampuan cash flow Perusahaan,” ujar Prasetio.
Dalam proses restrukturisasi ini, GIAA senantiasa mengedepankan semangat sinergitas BUMN maupun bersama mitra kerja dengan memastikan bahwa pembayaran kewajiban bunga berjalan lancar dengan mengedepankan prinsip efisiensi biaya operasional secara menyeluruh dan mengoptimalisasi struktur biaya dari biaya tetap menjadi biaya variabel sesuai dengan kinerja operasi.
Adapun untuk langkah renegosiasi biaya pesawat, GIAA saat ini terus melakukan komunikasi intensif dengan lessor untuk menurunkan biaya sewa serta perpanjangan masa leasing, yang diharapkan dapat memperbaiki kondisi keuangan Perseroan kedepannya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















