Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama bersama Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) Edy Setijono memberikan informasi terbaru terkait perkembangan transformasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada acara Coffe Morning “Dialog TWC-TMII dengan Media” di Museum Indonesia, TMII, Jakarta, Kamis (2/9/2021). Kegiatan yang berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan ketat ini dilakukan sebagai bentuk keterbukaan informasi terkait pengembangan TMII yang terus berlangsung.
“Kami ingin memiliki satu agenda di mana bisa saling berbagi informasi yang akan kita adakan sedapat mungkin sebulan sekali sebagai bentuk keterbukaan publik kita. Kami harapkan juga masukan dari rekan media sekaligus ingin menyampaikan perkembangan di TMII,” terang Edy Setijono.
Keterbukaan informasi ini dilakukan sebagai bentuk penerapan nilai Good Corporate Governance (GCG) yang menjadi sasaran utama dalam proses transformasi pengelolaan TMII ke depan. Acara ini merupakan upaya membangun kepercayaan publik terhadap proses yang masih berlangsung ini
“Kami ingin mengawali proses penataan TMII ini sebaik mungkin. Kita ingin ada pertanggungjawaban publik yang harus dijalankan karna ini adalah kekayaan negara yg harus kita jaga. Kami berharap rekan media bisa menjadi mediator untuk menyampaikan informasi, baik dari kami kepada publik maupun sebaliknya,” ungkapnya.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama mendukung kegiatan ini. Dirinya mengatakan bahwa publik harus mendapatkan informasi yang akurat serta terpercaya terkait proses pengembangan TMII ke depan.
“Selayaknya kita mendapatkan informasi dari tangan pertama, dari Dirut TWC sendiri. Acara ini sebagai informasi pengembangan TMII ke depan,” terangnya.
Kemensesneg sebagai pemilik aset di TMII ini memiliki alasan kuat untuk menunjuk PT TWC. “Hal ini karena berbagai inovasi dan aksi dalam pengelolaan aset negara di Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko,” lanjutnya.
Setya Utama berharap seluruh stakeholder di TMII mendukung proses transformasi ini. Kawasan seluas 146,7 hektar yang menjadi aset Kemensesneg diharapkan bisa menjadi etalase budaya bangsa Indonesia.
“Kita ingin TMII sebagai wisata budaya, jendela budaya keragaman Indonesia yang tidak kalah dengan wisata-wisata lainnya. Kami ingin potensi luar biasa ini dikembangkan dengan cepat, segera sehingga masyarakat bisa melihat hasilnya dan dapat membanggakan,” ungkapnya.















