Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksi pertumbuhan kredit akan meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlangsung. Namun penyaluran kredit perbankan akan cenderung selektif memperhatikan prospek debitur.
“Juga tetap memperhatikan pengelolaan risiko kredit meskipun kebijakan relaksasi kredit restrukturisasi masih berlangsung sampai dengan Maret 2023. Antisipasi pemburukan kualitas kredit existing akan terus dilakukan dengan pembentukan pencadangan yang memadai,” jelas LPS dalam Laporan Bulanan LPS yang dikutip Minggu (27/2).
Pada saat yang sama bank juga harus bersiap dengan perubahan perilaku deposan dan kehadiran layanan digital yang potensial mempengaruhi peta persaingan antar bank.
Kendati demikian, LPS menyatakan kondisi likuiditas perbankan tetap longgar di tengah mulai membaiknya fungsi intermediasi sejalan pemulihan ekonomi di sisi konsumsi dan produksi. Di sisi lain, suku bunga simpanan menurun dengan laju lebih lambat memasuki awal 2022.
Asal tahu saja, peningkatan pertumbuhan kredit terus melanjutkan tren positif hingga tumbuh ke level 5,24% year on year (yoy) pada Desember 2021. Meningkatnya angka pertumbuhan kredit ini sejalan dengan tren pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi 12,21% yoy, sehingga LDR perbankan cenderung turun ke level 77,13%. Likuiditas perbankan juga masih menunjukkan posisi longgar di level diindikasikan dari level rasio AL/NCD 157,94% dan AL/DPK 35,12% meningkat sekitar dari periode bulan sebelumnya.
Pulihnya permintaan kredit utamanya ditopang pemulihan kinerja sisi konsumsi dan produksi pasca penerapan PPKM leveling di berbagai daerah.
Sumber KOntan, edit koranbumn













