Mandiri Manajemen Investasi menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp1 triliun dari produk Exchange Traded Fund (ETF) emas yang tengah dipersiapkan.
ETF tersebut akan berbentuk reksa dana kontrak investasi kolektif dengan underlying emas fisik yang disimpan di Lembaga Jasa Keuangan Bulion. Perseroan tercatat telah menggandeng PT Mandiri Sekuritas sebagai dealer partisipan untuk peluncuran ETF Emas Syariah.
Direktur Investasi Mandiri Investasi, Ernawan R. Salimsyah, mengatakan target tersebut mencerminkan optimisme terhadap meningkatnya minat investor pada instrumen safe haven di tengah ketidakpastian global.
“Kami menargetkan dana kelolaan Rp1 triliun. Peluang ETF emas semakin relevan di tengah fragmentasi geopolitik dan meningkatnya risiko kebijakan fiskal maupun moneter global,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Mandiri Investasi memperkirakan produk dapat diluncurkan dua hingga tiga bulan setelah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait ETF emas resmi diterbitkan. Saat ini, perseroan memantau perkembangan regulasi sembari mematangkan kesiapan operasional, legal, dan infrastruktur produk.
Optimisme tersebut juga ditopang tren global. Berdasarkan data World Gold Council, aset kelolaan ETF emas dunia mencapai rekor US$559 miliar pada 2025 dengan total kepemilikan 4.025 ton, naik dari 3.224 ton pada 2024.
Ernawan menegaskan emas memiliki fungsi struktural sebagai lindung nilai terhadap inflasi, depresiasi mata uang, dan ketidakpastian global. Dalam beberapa tahun terakhir, korelasinya terhadap aset berisiko seperti saham dan obligasi relatif rendah, sehingga efektif sebagai instrumen diversifikasi dalam strategi multi-aset.
Lonjakan harga emas yang sempat diikuti koreksi tajam dinilai bukan mencerminkan pelemahan fundamental, melainkan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga riil global, terutama kebijakan bank sentral AS. Selama real yield global berada dalam tren menurun atau volatil, emas dinilai tetap menarik. Bahkan, koreksi harga bisa menjadi entry point yang lebih sehat.
Secara strategis, ETF emas diposisikan sebagai pelengkap reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, dan saham, bukan produk musiman atau spekulatif. Dalam periode kenaikan risk premium, termasuk saat tekanan terhadap sovereign rating atau gejolak pasar saham, emas kerap menjadi penyeimbang portofolio.
“ETF emas ditempatkan sebagai alat diversifikasi jangka panjang, bukan instrument spekulatif,” tegasnya.
Tantangan
Di balik prospeknya, Mandiri Investasi mengakui sejumlah tantangan. Pertama, persepsi market timing. Saat harga tinggi, investor khawatir terlambat masuk; ketika harga terkoreksi, sentimen bisa cepat berubah negatif. Edukasi mengenai peran emas sebagai alokasi strategis menjadi krusial.
Kedua, sensitivitas terhadap suku bunga riil AS dan pergerakan dolar. Kenaikan real yield yang signifikan berpotensi menekan harga emas.
Ketiga, tantangan struktur pasar domestik. ETF emas membutuhkan underlying yang kredibel, mekanisme creation dan redemption yang efisien, serta dukungan market maker aktif agar spread kompetitif. Tanpa kedalaman pasar memadai, risiko tracking error dan likuiditas sekunder dapat muncul.
Selain itu, preferensi investor Indonesia yang masih kuat pada emas fisik dan tabungan emas digital menjadi pekerjaan rumah tersendiri, sehingga diferensiasi produk dan edukasi harus diperkuat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual reksa dana. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















