Anak usaha PT PLN (Persero) itu menargetkan ekspor biomassa mencapai sekitar 1 juta ton pada 2026 ini.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, langkah ekspor ini diambil setelah melihat potensi biomassa nasional yang belum sepenuhnya terserap oleh kebutuhan pembangkit listrik domestik, khususnya program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Kalau kita bisa mengamankan ekspor sampai 1 juta ton tahun ini, itu sudah bagus. Saat ini yang sudah terkontrak sekitar 200.000 ton, jadi masih ada sekitar 800.000 ton lagi yang akan kita kejar,” ujar Hokkop kepada Bisnis dikutip Selasa (10/3/2026).
Adapun, komoditas biomassa yang dibidik untuk pasar ekspor, antara lain cangkang sawit dan wood pellet. Menurut Hokkop, pasar ekspor biomassa sebenarnya cukup besar.
Dia mencatat sepanjang 2025, ekspor biomassa dari Indonesia yang dilakukan berbagai pelaku usaha tercatat mencapai sekitar 10 juta hingga 12 juta ton.
Komoditas yang diekspor pun beragam, mulai dari cangkang sawit, wood chip, pelet kayu hingga limbah kayu yang masih dalam bentuk mentah.
“Angka ekspor biomassa itu sudah hampir 12 juta ton tahun lalu. Sementara kemampuan penyerapan biomassa untuk cofiring PLN EPI pada 2025 baru sekitar 2,4 juta ton,” katanya.
Di sisi lain, Hokkop menuturkan, harga biomassa di pasar ekspor juga relatif lebih tinggi dibandingkan harga domestik.
Dia mencontohkan, harga biomassa untuk kebutuhan cofiring di dalam negeri berkisar sekitar Rp700.000 per ton. Sementara itu, harga ekspor biomassa dari cangkang sawit dapat mencapai Rp1 juta hingga Rp1,3 juta per ton, bahkan dalam kondisi tertentu bisa dua kali lipat dari harga lokal.
“Material yang kalorinya tinggi seperti cangkang sawit dan pelet itu justru lebih kompetitif kalau dijual ke pasar ekspor. Jadi daripada tidak terserap, sebagian kita arahkan ke ekspor,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hokkop menuturkan bahwa saat ini pihaknya telah menjalin kontrak ekspor biomassa dengan pembeli dari Polandia. Selain itu, perusahaan juga tengah menjajaki peluang kerja sama dengan calon pembeli dari Jepang.
Meski mulai menggarap pasar ekspor, Hokkop menegaskan langkah tersebut bukan berarti PLN EPI menomorduakan kebutuhan pembangkit listrik domestik.
Menurutnya, ekspor dilakukan karena tidak semua jenis biomassa dapat langsung digunakan oleh pembangkit yang ada saat ini. Hal itu terkait dengan spesifikasi mesin pembangkit yang pada awalnya dirancang untuk bahan bakar fosil.
“Mesin pembangkit kita tidak semuanya bisa menyerap biomassa tertentu, misalnya cangkang sawit atau pelet yang kualitasnya tinggi. Jadi sebagian yang tidak bisa terserap itu kita kumpulkan dan sementara diarahkan ke ekspor,” tutur Hokkop.
Di satu sisi, PLN EPI juga terus meningkatkan penyerapan biomassa untuk kebutuhan cofiring PLTU. Pada 2026, perusahaan menargetkan penyerapan biomassa untuk cofiring dapat mencapai sekitar 3,65 juta ton, meningkat dari realisasi 2025 yang sekitar 2,4 juta ton.
Hokkop menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bioenergi, khususnya biomassa dari sektor kehutanan dan perkebunan.
“Dengan potensi hayati yang besar, Indonesia sebenarnya bisa menjadi salah satu pemain utama bioenergi dunia, termasuk untuk pasar ekspor biomassa,” ujarnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn







