Kepemilikan saham PT Aneka Tambang Tbk. atau Antam di Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia (IBI) bertambah menjadi 33,75%.
Hal itu disampaikan dalam paparan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif di rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Kepemilikan saham IBC dipegang oleh MIND ID melalui Antam dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum. Kemudian, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).
Awalnya, kepemilikan saham empat perusahaan pelat merah tersebut dalam IBC sama rata, yakni masing-masing 25%. Namun, kini kepemilikan saham PLN berkurang menjadi 7,5%.
Aditya mengatakan, kepemilikan saham PLN dialihkan kepada Antam dan Inalum.
“Kemarin [kepemilikan saham PLN dialihkan kepada] MIND ID Group ya,” ucap Aditya ditemui usai RDP.
Dengan begitu, porsi kepemilikan saham Antam dan Inalum kini masing-masing menjadi 33,75%. Sementara itu, Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energi tetap 25%.
Artinya, MIND ID melalui Antam dan Inalum menjadi mayoritas pemegang saham IBC. Namun, Aditya menegaskan hingga saat ini tidak ada entitas pemegang saham yang menjadi pengendali IBC.
IBC merupakan perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor baterai, khususnya untuk kendaraan listrik (electric vehicle).
Saat ini, IBC dan Antam mengembangkan proyek baterai EV di Karawang, Jawa Barat. Proyek itu dijalankan bersama Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL), joint venture (JV) Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend.
Adapun, proyek baterai di sisi hulu tambang hingga pabrik pemurnian dengan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan high pressure acid leaching (HPAL) akan dikembangkan di Kawasan Industri PT Feni Haltim (FTH), Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, untuk hulu. FTH merupakan perusahaan patungan antara cucu usaha CATL, Hong Kong CBL Limited (HKCBL) dan Antam.
Sementara itu, di sisi hilir berupa pabrik sel baterai akan dibangun di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Jawa Barat.
Di Karawang, IBC dan CBL membangun pabrik sel baterai berkapasitas awal 6,9 GWh (fase 1) dan akan berkembang menjadi 15 GWh dalam 5 tahun.
Pabrik ini merupakan bagian dari proyek terintegrasi meliputi pembangunan pabrik material aktif baterai yakni prekursor dan katoda, dan fasilitas daur ulang baterai.
Adapun, lini produksi berteknologi mutakhir itu ditargetkan beroperasi pada 2026, memproduksi sel untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS), baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
IBC bersama CBL, berkomitmen menjadikan pabrik sel baterai di Karawang sebagai Asean regional hub. Ini khususnya untuk memenuhi kebutuhan baterai EV dan BESS di kawasan.
Ke depannya, rantai siklus baterai IBC dan CBL ditutup oleh pabrik daur ulang baterai dengan kapasitas 20.000 ton baterai bekas per tahun untuk menjadi input material baterai kembali. Teknologi yang digunakan nantinya diklaim mampu memulihkan lebih dari 95% logam berharga sehingga emisi karbon dapat ditekan dan prinsip ekonomi sirkular terjaga.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn










