Hal itu diungkapkan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV?2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026). “Hingga akhir 2025, BRI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp57,13 triliun,” ungkap Hery, Kamis (26/2/2026).
Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin menambahkan kinerja keuangan dan profitabilitas positif BRI didukung oleh kondisi likuiditas yang memadai.
Dia mengatakan, hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio atau LDR yang bank berada di level yang ample sebesar 91,4%. Angka ini memberikan ruang bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Farida mengungkapkan bahwa rasio liquidity coverage ratio (LCR) juga terjaga di level 136,9% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7% atau jauh di atas ketentuan regulator yaitu 100%.
“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga atau pendanaan yang lebih optimal,” ujar Farida.
Dari sisi permodalan, Farida mengungkap bahwa saat ini kondisi permodalan BRI kami nilai cukup kuat dengan rasio capital adequacy ratio (CAR), BRI ada di level 23,52% atau di atas ketentuan minimum regulator.
Dia menuturkan, posisi ini menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent, menyerap potensi risiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan perseroan.
“Dengan struktur permodalan yang kokoh, BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit khususnya segmen UMKM dan pembiayaan produktif sejalan dengan komitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” tuturnya.
Dari sisi kualitas aset, hingga akhir tahun 2025, rasio NPL (NPL) BRI terkendali di level 3,07%. Hal tersebut menjadi semakin relevan mengingat portofolio BRI yang mayoritas disalurkan ke segmen UMKM yang secara karakteristik memiliki resiko yang lebih granular.
Farida menyebut NPL yang rendah ini menunjukkan efektivitas strategi manajemen risiko yang solid dan penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten. Dengan kualitas kredit yang terjaga tersebut, BRI juga tetap menyediakan pencadangan yang sangat memadai dengan NPL coverage besar 178,1%.
“Dengan coverage ratio yang sangat memadai ini, BRI tidak hanya mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan, namun juga memberikan keyakinan kepada investor, regulator, dan seluruh stakeholders bahwa perseroan memiliki fundamental yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan pasar,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














