• Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
Kamis, 30 April 2026
  • Login
No Result
View All Result
Koran BUMN
Advertisement
  • Home
  • Berita
  • Korporasi
  • Anak Perusahaan
  • Kinerja & Investasi
  • TJSL – PKBL – CSR
  • Pelatihan
  • Toko PKBL
  • Home
  • Berita
  • Korporasi
  • Anak Perusahaan
  • Kinerja & Investasi
  • TJSL – PKBL – CSR
  • Pelatihan
  • Toko PKBL
No Result
View All Result
Koran BUMN
No Result
View All Result

Bukit Asam Semakin Serius Masuk ke Sektor Energi Baru Terbarukan

by redaksi
17 Juli 2021
in Berita
0
Festival Kuliner Sambut Hari Jadi PTBA
0
SHARES
53
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) semakin serius masuk ke sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), tercermin dari berlanjutnya usaha penjajakan ke sejumlah proyek energi terbarukan. Namun di sisi lain, Bukit Asam masih temui sejumlah kendala sehingga pengembangan energi terbarukan belum bisa dijalankan dengan maksimal.

Direktur Utama Bukit Asam, Suryo Eko Hadianto mengatakan selama ini PTBA sudah menjalankan sejumlah proyek pengembangan EBT sebelum ada isu besar yang menghantam industri pertambangan batubara.

RelatedPosts

PLN Teken PJBTL Terbesar untuk Data Center di Indonesia, Siap Pasok Listrik 511 MVA ke DayOne

Sesuai Arahan BP BUMN bersama Danantara, Waskita Karya Siap Percepat Langkah Restrukturisasi dan Tingkatkan Kontribusi bagi Perekonomian Nasional

Perkuat Konektivitas Global, Pelindo Sambut Kementerian Infrastruktur Estonia dan Delegasi

“Awalnya bisnis kami berorientasi pada ekspansi angkutan batubara, pembangkit listrik, dan hilirisasi batubara. Tetapi berangkat dari adanya Paris Agreement, maka kami menambah dua pilar bisnis yakni masuk ke Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sekaligus menjajaki manajemen karbon,” jelasnya dalam acara Investor Daily Summit, Rabu (14/7).

Sudah ada sejumlah jejak yang ditorehkan Bukit Asam dalam  berkontribusi di sektor EBT, salah satunya bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II membangun PLTS berkapasitas 241 KWP dengan nilai investasi sebesar US$ 194.400.

Suryo tidak menampik bahwa investasi yang dikeluarkan masih kecil, tetapi ini dilakukan sebagai langkah awal yang sudah berjalan dengan baik. “Ini menambah keyakinan kami untuk masuk ke bisnis EBT,” kata Suryo.

Selain dengan AP II, PTBA juga sudah memiliki beberapa pilot project di beberapa daerah menggunakan dana CSR. Adapun saat ini PTBA juga sedang menjajaki beberapa peluang untuk pengembangan EBT yang rencana investasinya sudah masuk dalam anggaran.

Suryo memaparkan beberapa peluang tersebut, antara lain proyek PLTS Terapung Dam Sigura-gura INALUM dengan kapasitas 2×500 kWp. Kemudian pengembangan PLTS di bandara lainnya untuk mengusung green airport concept. Lainnya, penjajakan pengembangan PLTS di Jasa Marga Bali Mandara dan PLTS di Pelindo II-IPC (Jalan tol Cibitung – Cilincing).

Kendati sudah semakin serius menggarap bisnis EBT, Suryo mengatakan masih ada sejumlah hambatan yang ada di Indonesia mengenai pengembangan energi baru terbarukan.

Hambatan tersebut salah satunya, kelayakan tarif PLTS yang cukup tinggi. Sebagaimana diatur dalam Permen ESDM No 4 tahun 2020 pasal 5 yang berisi maksimal Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan (BPP) adalah 85% di atas BPP sistem pembangkit setempat.

Aturan BPP PLTS tersebut dirasa belum kompetitif terutama bila dibandingkan dengan BPP PLTU saat ini. Sebagai contoh di Sumatera Selatan, BPP pembangkitnya di bawah rata-rata nasional maka tidak bisa menerapkan ketentuan tersebut.

Kemudian, kurangnya ketersediaan atau kemampuan jaringan T/L Grid PLN untuk menyerap hasil produksi PLTS terutama yang berkapasitas di atas 20 MWp, terutama di Sumatera. Sedangkan PTBA mempunyai potensi lahan pasca tambang yang besar dan dapat dikembangkan untuk mendukung program pemerintah.

Suryo punya cara pandangnya sendiri untuk menyikapi Paris Agreement. Menurutnya perihal penghentian ekploitasi batubara harus dievaluasi ulang. “Bagaimanapun juga energi batubara saat ini merupakan energi termurah untuk PLTU sementara Indonesia masih memiliki kekayaan batubara yang cukup besar,” katanya.

Dia mengilustrasikan cara menyikapi Paris Agreement ini dengan fenomena nasi padang. Fenomena ini menceritakan tentang seorang petani yang memiliki stok padi yang cukup untuk 3 bulan, jika tidak diolah padi tersebut akan rusak dan tidak bisa dimakan.

Untuk mengolah padi tersebut dibutuhkan biaya Rp 15.000 untuk satu kilogramnya, sementara membeli nasi padang dekat rumah yang notabene lebih enak dan bersih cukup dengan Rp 12.500 saja. Para pedagang nasi padang selalu kampanye bahwa nasi padang lebih jauh efisien dan irit.

“Namun apa yang terjadi? Kekayaan bapak petani ini yang tadinya punya padi di gudang untuk 3 bulan ke depan jadi hangus karena tidak termanfaatkan hanya karena ingin dapat nasi padang saat itu juga yang lebih murah, tetapi kekayaan hilang,” ujarnya.

Menurutnya ilustrasi tersebut sama dengan fenomena batubara di Indonesia. Di satu sisi membutuhkan energi murah untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat tetapi di sisi lain punya komitmen untuk Paris Agreement.

Maka dari itu, PTBA menyodorkan konsep manajemen karbon. Jelasnya, target reduksi karbon harus diperhitungkan oleh semua instansi dan semua perusahaan. Tidak hanya sekadar menerapkan pajak karbon tetapi di internal Indonesia harus ada mekanisme transaksi kredit karbon.

Apabila perusahaan sudah membeli kredit karbon maka pajak bisa direduksi. Di sisi lain,  pajak karbon bisa tinggi jika perusahaan tidak melakukan transaksi atau tidak berupaya mengurangi reduksi emisi karbon.

Menurut Suryo, jika sistemnya bisa dibuat demikian, Indonesia tidak perlu menginduk ke belahan dunia lain. “Jika sudah menerapkan kredit karbon, saya yakin penurunan emisi karbon bisa diatur dengan baik dan semua lapisan perusahaan yang notabene memproduksi karbon akan tergerak sendiri untuk menurunkan emisi karbonnya,” tandasnya.

Sumber Kontan, edit koranbumn

Previous Post

Kembangkan Energi Terbarukan di NTT, PLN Bangun PLTP Mataloko 20 MW

Next Post

TPK Belawan Terapkan Autogate System Sebagai Wujud Komitmen Pelindo 1 Dukung Program NLE

Related Posts

Tahun 2020, PLN akan Konversi 5 Pembangkit Diesel ke Gas
Berita

PLN Teken PJBTL Terbesar untuk Data Center di Indonesia, Siap Pasok Listrik 511 MVA ke DayOne

30 April 2026
Waskita Karya Selenggarakan Sosialisasi P4GN
Berita

Sesuai Arahan BP BUMN bersama Danantara, Waskita Karya Siap Percepat Langkah Restrukturisasi dan Tingkatkan Kontribusi bagi Perekonomian Nasional

30 April 2026
Berita Singkat BUMN : Pelindo, KAI, PAL Indonesia, PTPN 3, Indonesia Power, Waskita Karya, Indonesia Power, Bukit Asam
Berita

Perkuat Konektivitas Global, Pelindo Sambut Kementerian Infrastruktur Estonia dan Delegasi

30 April 2026
Antisipasi DBD di Tengah Covid-19, Elnusa Fogging Lingkungan Warga Sekitar
Anak Perusahaan

Elnusa Catat Kinerja Q1 2026 yang Resilien, Arus Kas Menguat dan Fundamental Tetap Solid di Tengah Dinamika Industri Energi

30 April 2026
Hutama Karya Tunggu Keputusan Resmi Pemegang Saham Kelangsungan Holding Infrastruktur
Berita

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Tinjau Progres Sekolah Rakyat DKI, Hutama Karya Dukung Pembangunan Infrastruktur Pendidikan

30 April 2026
Adhi Karya Apresiasi Penurunan Suku Bunga Acuan
Berita

ADHI Karya Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di Jawa Tengah, Optimis Rampung Juni 2026

30 April 2026
Next Post
Ambassador of Belgium to Indonesia Melakukan Kunjungan ke Pelindo 1

TPK Belawan Terapkan Autogate System Sebagai Wujud Komitmen Pelindo 1 Dukung Program NLE

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Foto : Ifan Bima Foto : Ifan Bima Foto : Ifan Bima

Recommended

Pertamina Perlu Bangun Empat Pabrik Dimethyl Ether

Susunan Direksi dan Dewan Komisaris Pertamina Geothermal Energy Terkini

4 hari ago
Indonesia Re Sumbangkan 500 Unit APD dan Empat Unit BDC

Kolaborasi Indonesia Re Bersama AAJI Selenggarakan Webinar Insurenation Bertajuk POJK 36 Tahun 2025: Ekosistem Asuransi Kesehatan

2 hari ago
Aksi Nyata InJourney Hospitality, Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SDN Tenjolaut Sukabumi

Groundbreaking Oakwood Sanur Bali: Penguatan Ekosistem Health And Wellness Living di Kawasan The Sanur

3 hari ago
IP Fokus Ciptakan Expertise, Resmikan Centre of Excellence Pemaron

PLN Indonesia Power Lakukan Percepatan Pembangunan PLTS untuk Kejar Target Kapasitas 100 GW

6 hari ago
Tahun 2020, PLN akan Konversi 5 Pembangkit Diesel ke Gas
Berita

PLN Teken PJBTL Terbesar untuk Data Center di Indonesia, Siap Pasok Listrik 511 MVA ke DayOne

by redaksi
30 April 2026
0

PT PLN (Persero) melalui PT PLN Batam terus mendukung pengembangan industri digital tanah air, termasuk proyek data center global PT...

Read more
Waskita Karya Selenggarakan Sosialisasi P4GN

Sesuai Arahan BP BUMN bersama Danantara, Waskita Karya Siap Percepat Langkah Restrukturisasi dan Tingkatkan Kontribusi bagi Perekonomian Nasional

30 April 2026
Berita Singkat BUMN : Pelindo, KAI, PAL Indonesia, PTPN 3, Indonesia Power, Waskita Karya, Indonesia Power, Bukit Asam

Perkuat Konektivitas Global, Pelindo Sambut Kementerian Infrastruktur Estonia dan Delegasi

30 April 2026
Antisipasi DBD di Tengah Covid-19, Elnusa Fogging Lingkungan Warga Sekitar

Elnusa Catat Kinerja Q1 2026 yang Resilien, Arus Kas Menguat dan Fundamental Tetap Solid di Tengah Dinamika Industri Energi

30 April 2026
Hutama Karya Tunggu Keputusan Resmi Pemegang Saham Kelangsungan Holding Infrastruktur

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Tinjau Progres Sekolah Rakyat DKI, Hutama Karya Dukung Pembangunan Infrastruktur Pendidikan

30 April 2026
  • Tentang Kami
  • Advertise
  • Careers
  • Contact
Hotline T/WA : 0813 8084 1716

© 2020 KoranBUMN.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Korporasi
  • Anak Perusahaan
  • Kinerja & Investasi
  • TJSL – PKBL – CSR
  • Pelatihan
  • Toko PKBL

© 2020 KoranBUMN.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In