Sejumlah bank besar masih mencatatkan kenaikan Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
Selain penurunan suku bunga, peningkatan digitalisasi layanan yang dilakukan perbankan beberapa tahun belakangan turut mendorong kenaikan NIM tersebut. Semakin mudahnya bertransaksi dengan layanan digital telah mendorong dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sehingga biaya dana mengempis.
Selain itu, rencana kenaikan suku bunga yang dilakukan Federal Reserve yang tentu bakal diikuti dengan kenaikan suku bunga di dalam negeri akan membuat biaya dana naik.
Apalagi ekonomi tahun ini juga akan memasuki fase penguatan. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan ada dalam kisaran 5%-5% sehingga penyaluran perbankan juga sudah mulai bergerak. Perbankan harus menjaga likuiditas di tengah pertumbuhan itu.
Untuk tetap menjaga NIM, lanjut Novita, BNI akan melakukan optimalisasi yield dengan ekspansi kredit kepada debitur-debitur top tier dan berisiko rendah, serta meningkatnya pembiayaan konsumer berbasis digital seperti PayLater. BNI juga akan fokus meningkatkan dana murah dan menjaga kualitas aset tetap sehat.
Hingga September 2021, NIM BNI mencapai 4,7% atau naik 50 basis poin secara year on year (YoY). Novita bilang, capaian itu tidak lepas dari penurunan biaya dana ke level 1,6%, terendah dalam 10 tahun terakhir.
Sumber Kontan, edit koranbumn













