Managing Director Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Rohan Hafas menjelaskan anak usaha Citilink menjadi penerima terbesar dana restrukturisasi, yakni Rp15 triliun atau sekitar 63% dari total injeksi tahap awal.
Dana tersebut bukan dipergunakan untuk ekspansi agresif, melainkan untuk membayar biaya perawatan pesawat (maintenance) yang sempat tertunda selama pandemi.
Rohan menyebut, akibat penundaan service yang menumpuk, hingga 70% armada Citilink sempat terancam tidak bisa terbang karena belum menjalani perawatan wajib. Kini proses pemulihan jumlah pesawat masih berlangsung.
Tak hanya Citilink, Garuda juga menggunakan sebagian dana untuk kebutuhan operasional, termasuk menyelesaikan utang bahan bakar yang tertunda selama pandemi kepada PT Pertamina (persero) senilai Rp3 triliun dan biaya lainnya.
“Updatenya dari injeksi dana Rp23 triliun, sebesar Rp15 triliun diberikan ke Citilink. Kemudian ada Rp3 triliun itu utang bahan bakar kepada Pertamina, biaya pegawai, dan lainnya,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Dari sisi kinerja dia menyebut data yang ada juga menunjukkan perbaikan sepanjang 2025. Dia menyebut tingkat keterisian kursi (Seat Load Factor /SLF) Garuda meningkat dari 77% menjadi sekitar 80–81% secara tahunan.
Jumlah pergerakan penumpang pada 2025 juga tumbuh dua digit sebesar 10,5%. Pertumbuhan ini terjadi karena semakin banyak pesawat yang selesai menjalani perawatan dan kembali beroperasi.
Manajemen menyebut 2025 memang difokuskan pada pembenahan fundamental mulai dari tata kelola, struktur organisasi, hingga penguatan permodalan.
Sebagai pemegang saham, Danantara Indonesia memandang 2025 sebagai tahap penting dalam memastikan keberlanjutan transformasi Garuda. Prioritas diarahkan pada peningkatan kesiapan armada secara bertahap, penguatan struktur permodalan, penataan jaringan dan kapasitas berbasis prinsip kehati-hatian
Sepanjang 2025, Garuda Group berada dalam fase peningkatan kesiapan teknis armada. Program perawatan dan reaktivasi dilakukan secara bertahap sesuai perencanaan operasional.
ini merupakan bagian dari strategi memastikan kualitas layanan dan keandalan operasional
sebelum memasuki tahap optimalisasi kapasitas. Pendekatan ini menempatkan kualitas dan keberlanjutan sebagai prioritas, bukan ekspansi agresif dalam jangka pendek.
Hingga November 2025, Garuda mengoperasikan 58 pesawat dan Citilink 32 pesawat, meProgres yang berjalan menunjukkan perbaikan kesiapan armada yang konsisten dan terukur. Faseningkat dari 21 pesawat Citilink pada Juli 2025.
Dengan fondasi maskapai pelat merah tersebut yang lebih stabil, Dia mengarahkan agar pada tahun ini garuda masuk fase optimalisasi kapasitas dan peningkatan kinerja secara terukur.
Garuda Indonesia tercatat membukukan rugi bersih sebesar US$182,53 juta atau Rp3,03 triliun (asumsi kurs Rp16.631 per dolar AS) per kuartal III/2025.
Berdasarkan laporan keuangan, rugi bersih GIAA itu membengkak 39,10% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya US$131,22 juta atau Rp2,18 triliun.
Membengkaknya rugi GIAA sejalan dengan pendapatan usaha yang turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar per kuartal III/2025, dibandingkan US$2,56 miliar per kuartal III/2024. Pendapatan GIAA terbesar berasal dari penerbangan berjadwal yang turun 8,52% YoY menjadi US$1,84 miliar. Kemudian, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal naik 2,88% YoY menjadi US$299,55 juta.
Di sisi lain, GIAA membukukan beban usaha yang susut dari US$2,38 miliar per kuartal III/2024, menjadi US$2,28 miliar per kuartal III/2025. Akan tetapi, setelah dipengaruhi pendapatan dan beban lainnya, GIAA membukukan rugi sebelum pajak penghasilan yang naik 42,98% YoY menjadi US$211,71 juta per kuartal III/2025.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















