Tiga tahun sudah Yoni tidak kembali ke kampung halamannya di Bandung, Jawa Barat sejak dioperasionalkannya ruas tol Terpeka. Yoni memilih untuk tetap menetap memastikan kelancaran jalan tol yang dikelola bahkan sebelum adanya larangan mudik.
“Iya, kalau dibilang kangen, kangen sudah pasti. Tiap hari video call sama keluarga di kampung, tetapi saya yakin mereka pun mengerti dengan tugas saya di sini,” tutur Yoni seperti dikutip melalui siaran pers Hutama Karya, Minggu (16/5/2021).
Biasanya pada saat momen mudik, pengoperasian jalan tol akan lebih padat dan sibuk daripada hari-hari biasa mengingat trafik kendaraan yang melintas akan naik secara drastis sehingga membutuhkan perhatian ekstra dalam menghadapinya. Sementara itu, Ari Wibowo, petugas operasional tol di Aceh, juga tak dapat merayakan hari Lebaran di kampung halamannya yakni di Palembang, Sumatra Selatan.
Ari sehari-hari bertugas di cabang tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) pun masih harus siaga hingga hari raya tiba.
“Sebelum saya mendapat penugasan ke Aceh, saya merupakan bagian petugas operasi di ruas Palembang–Indralaya. Setelah Sibanceh mulai dioperasikan, barulah saya dipindahkan ke Aceh. Ini tahun kedua saya tidak dapat lebaran bersama keluarga. Walau sedih, saya bangga karena dapat mengabdikan diri bagi kelancaran konektivitas di Aceh melalui jalan tol ini, dan mendapatkan pengalaman baru Lebaran bersama teman-teman operasional di sini,” terang Ari.
Kehadiran JTTS dari Lampung hingga Aceh bukan hanya sebagai jalan bebas hambatan yang memangkas waktu tempuh dalam berkendara ke daerah tujuan, tetapi memiliki peranan penting sebagai akses pendistribusian barang-barang untuk berbagai daerah.
Pada prinsipnya, Hutama Karya mendukung sepenuhnya arahan dari pemerintah terkait dengan larangan mudik. Namun, Hutama Karya tetap siaga memberi pelayanan optimal bagi pengguna jalan yang masih diperbolehkan melintas.
Sumber Bisnis, edit koranbumn