PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN berencana mengganti lebih dari 2.000 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di 741 lokasi dengan pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT).
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor yang berbiaya tinggi.
“Penggunaan energi yang masih berbasis kepada impor dan energi mahal, yaitu BBM, harus segera kami kurangi,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (13/4/2026).
PLN telah memetakan 741 lokasi dengan total 2.396 unit PLTD yang akan diganti secara bertahap. Total kapasitas pembangkit tersebut mencapai sekitar 1,07 gigawatt (GW).
Dalam implementasinya, PLN akan menyesuaikan jenis pembangkit dengan potensi energi di masing-masing lokasi.
Untuk wilayah yang memiliki sumber air, PLN akan memprioritaskan pembangunan pembangkit listrik tenaga pikohidro dan mikrohidro.
Sementara itu, pada lokasi yang tidak memiliki potensi air, PLN akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dilengkapi dengan battery energy storage system (BESS).
Darmawan menyebut langkah ini merupakan bagian dari strategi percepatan transisi energi dengan tetap mempertimbangkan aspek efisiensi dan biaya.
Di sisi lain, kondisi sistem kelistrikan nasional hingga Maret 2026 dinyatakan dalam kondisi normal.
PLN mencatat daya mampu netto (DMN) mencapai 71,15 GW dengan cadangan daya (reserve margin) sebesar 39%.
“Sehingga pasokan listrik nasional dalam kondisi yang andal,” kata Darmawan.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















