Aktivitas penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) tercatat meredup hingga akhir Februari 2026, di tengah investor asing yang melakukan aksi jual bersih. Mandiri Sekuritas melihat investor asing masih tetap meminati pasar modal Indonesia.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menjelaskan investor asing pasti melakukan monitor terhadap perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.
“Saya yakin dengan peraturan-peraturan baru yang akan diterapkan, akan membuat market menjadi lebih likuid, lebih transparan, dan governance yang lebih bagus,” ujar Oki, Rabu (25/2/2026).
Oki juga menjelaskan investor asing sangat sensitif terhadap risiko likuiditas. Ia menekankan, berbagai agenda reformasi pasar yang tengah didorong regulator pada dasarnya bertujuan memperbaiki transparansi sekaligus meningkatkan kualitas likuiditas.
“Semua reformasi ini kan untuk membuat market jauh lebih likuid dari sekarang,” katanya.
Dia juga menuturkan saat ini investor asing menunggu adanya likuiditas untuk masuk ke dalam pasar modal Indonesia.
“Fundamentalnya bagus, growth story-nya bagus. It’s just a matter of time sebelum likuiditas itu balik ke market,” ujarnya.
Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 4,93% sejak awal tahun. Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp11,9 triliun sejak awal tahun.
Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyebut sejak awal tahun hingga saat ini, belum terdapat perusahaan yang mencatatkan saham di BEI.
Dia mengatakan hingga 22 Februari 2026, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Sebanyak lima di antara calon perusahaan tercatat ini merupakan perusahaan aset skala besar.
“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI, dengan tiga perusahaan aset skala menengah dan lima perusahaan aset skala besar,” ujar Nyoman, Minggu (22/2/2026).
Nyoman merinci sebanyak dua perusahaan merupakan perusahaan dari sektor basic materials, satu perusahaan consumer non-cyclicals, dan satu perusahaan energi.
Lalu dua perusahaan dari sektor finansial, satu perusahaan dari sektor industrials, dan satu perusahaan sektor transportasi dan logistik.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
















