Bank pelat merah tersebut tidak memerinci sektor apa saja yang menerima kredit hijau. Namun laporan tahunan BRI menunjukkan bahwa pembiayaan berkelanjutan berkontribusi sebesar 76,4% dari total pendanaan nonritel (wholesale funding) senilai Rp45,6 triliun.
Sejalan dengan performa positif pembiayaan hijau, BRI turut menorehkan kenaikan penyaluran kredit sosial sepanjang 2025. Nilainya naik dari Rp698,7 triliun pada 2024 menjadi Rp718,7 triliun pada pengujung tahun lalu.
Dalam laporannya, BRI turut mengungkap sektor-sektor sasaran pembiayaan dengan kontribusi emisi karbon tertinggi. Sektor kelistrikan, gas, uap dan transmisi menjadi kontributor terbesar dengan persentase emisi 62,39%. Selanjutnya sektor manufaktur menyusul dengan sumbangan 19,10% dan pertambangan sebesar 10,41%.
BRI turut mencatat penurunan emisi dari operasional pada 2025, dengan volume 445.000 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) untuk Scope 1 dan Scope 2. BRI sendiri menargetkan penurunan emisi sebesar 42% pada 2030 dibandingkan dengan level 2022 yang saat itu mencapai 492.000 ton CO2e.
Sebagai catatan, penyaluran kredit BRI secara konsolidasi mencapai Rp1.521,49 triliun hingga akhir 2025. Realisasi itu tumbuh 12,31% darpada periode yang sama tahun lalu.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















