Perum Perhutani berhasil masuk sebagai Finalis 5 (lima) Terbaik Kategori Badan Usaha Besar dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Awards (SAA) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas. Capaian ini diraih setelah melalui rangkaian proses penilaian yang ketat, mulai dari seleksi administrasi, penilaian substansi, hingga tahap wawancara bersama Dewan Juri, dan terpilih di antara ratusan institusi dan organisasi dari berbagai sektor yang mendaftar.
Dalam ajang SAA 2025, Perhutani mengangkat Program Agroforestry Pangan dan Pengembangan Socio Forest sebagai best practice unggulan. Program ini dinilai selaras dengan tema SAA 2025, yaitu “Inovasi Pangan dan Gizi: Peningkatan Kualitas SDM, Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan dan Penurunan Kemiskinan”. Program tersebut mencerminkan pendekatan integratif Perhutani dalam mengelola hutan secara lestari sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Plt Direktur Utama Perum Perhutani Natalas Anis Harjanto menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh insan Perhutani dan masyarakat desa hutan.
“Masuknya Perhutani sebagai Finalis 5 Terbaik Indonesia’s SDGs Action Awards 2025 merupakan pengakuan atas komitmen kami dalam mengelola hutan secara lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Bagi kami, hutan tidak hanya dijaga kelestariannya, tetapi juga harus mampu menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sinergi Perhutani dan Masyarakat dalam Ketahanan Pangan
Kemitraan produksi pangan bersama masyarakat sendiri telah dijalankan Perhutani sejak era 1990-an, kemudian diperkuat melalui skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada awal 2000-an, dan saat ini dikembangkan melalui Kebijakan Kemitraan Produktif Perhutani yang lebih adaptif dan berorientasi pada keberlanjutan. Pola agroforestry memungkinkan masyarakat mengelola kawasan hutan secara produktif tanpa mengabaikan fungsi ekologis hutan.
Sepanjang tahun 2024, implementasi program agroforestry Perhutani memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Sebanyak 472.141 orang petani tercatat bermitra dan berusaha di kawasan hutan Perhutani, dengan serapan tenaga kerja mencapai 619.642 orang. Dari aktivitas tersebut dihasilkan sekitar 745 ribu ton produksi pangan, dengan nilai produksi sebesar Rp3,2 triliun, serta memberikan pendapatan masyarakat hingga Rp4,3 triliun.
Produksi pangan tersebut mencakup berbagai komoditas strategis nasional, antara lain tebu sebesar 277.920 ton, singkong 69.437 ton, padi 24.776 ton, kopi 11.102 ton, porang 3.990 ton, dan bawang merah 98 ton, serta pengelolaan jagung pada areal seluas 57.514 hektare.
Anis menambahkan bahwa program agroforestry juga memiliki dampak lingkungan dan sosial yang signifikan.
“Melalui agroforestry dan kemitraan produktif, Perhutani mendorong rehabilitasi ekosistem hutan, menekan laju deforestasi, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan dan pemuda dalam ekonomi hijau. Inilah kontribusi nyata kami terhadap pencapaian SDGs,” jelasnya.
Momentum Perkuat Pengelolaan Hutan yang Berkelanjutan
Secara keseluruhan, program ini memberikan daya ungkit kuat terhadap pencapaian SDGs, antara lain peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan (SDG 1 dan SDG 8), rehabilitasi ekosistem dan penurunan laju deforestasi (SDG 13 dan SDG 15), serta peningkatan partisipasi perempuan dan pemuda dalam kegiatan ekonomi berkelanjutan (SDG 5 dan SDG 10).
Masuknya Perum Perhutani sebagai Finalis 5 Terbaik Indonesia’s SDGs Action Awards 2025 menjadi momentum untuk terus memperkuat pengelolaan hutan yang berkelanjutan, inklusif, dan berdampak nyata bagi pembangunan nasional.
Indonesia’s SDGs Action Awards merupakan ajang apresiasi nasional tahunan yang diberikan kepada para pemangku kepentingan yang dinilai memiliki komitmen dan praktik terbaik (best practice) dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Indonesia. Penilaian dilakukan secara komprehensif, mencakup pengarusutamaan SDGs dalam kebijakan dan kinerja organisasi, serta penilaian terhadap satu kegiatan unggulan berdasarkan aspek inovasi, partisipasi dan inklusivitas, manfaat, serta keberlanjutan, sesuai dengan tema yang ditetapkan setiap tahunnya. (Kom-PHT/PR/2026–I–01)














