PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menargetkan industri smelter yang saat ini sedang tumbuh bisa mendongkrak konsumsi listrik, khususnya di wilayah regional Sulawesi.
Direktur Bisnis Regional PLN Bagian Sulawesi Maluku Papua dan Nusa Tenggara Syamsul Huda menjelaskan saat ini pertumbuhan konsumsi listrik di wilayah Sulawesi pada kuartal pertama tahun ini sebesar 10 persen.
“Secara umum karena pertumbuhan industri dan rumah tangga juga sudah mulai menunjukan pertumbuhan,” ujar Syamsul secara virtual, Selasa (11/5).
Ia menjelaskan salah satu potensi pasar kedepan adalah kebijakan larangan ekspor nikel. Ini, kata Syamsul bisa menjadi market baru untuk pertumbuhan konsumsi.
“Sulawesi ini barangkali yang dapat berkah kebijakan soal nggak boleh ekspor nikel. Artinya pengolahan disini butuh smelter dan ini potensi pasar yang luar baisa,” kata Syamsul.
Dia menjelaskan normalnya beban listrik di Sulawesi rata-rata hanya 2.000 Megawatt (MW) tapi semenjak ada larangan ekspor nikel maka beban puncaknya bisa tiga kali lipat dari sebelum ada kebijakan larangan ekspor nikel.
“Beban puncak se sulawesi itu hanya 2.000 MW. karena ada smelter 6.100 MW. Jadi ini bisa tiga kali lipat ya dari beban puncak eksisting,” ungkap Syamsul.
Namun demikian potensi pasar besar ini tidak serta merta bisa langsung dimanfaatkan oleh PLN. Syamsul mengakui PLN masih menemui beberapa tantangan untuk memenuhi kebutuhan listrik pabrik-pabrik smelter. Utamanya adalah ketersediaan infrastruktur.
Ini bisa dilihat dari banyaknya pabrik smelter masih memiliki pembangkit listrik sendiri dan tidak mendapatkan pasokan dari PLN. “PLN berupaya menyiapkan infrastruktur yang ada sehingga bisa menangkap pasar. Kalau nggak mereka nanti bikin pembangkit sendiri. Kami melakukan pendekatan supaya pasar itu bisa pakai listrik PLN aja,” jelas Syamsul.













