Dalam sambutannya, Maryono menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah. Ia menyoroti sejumlah daerah yang menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah. “Persoalan sampah bukan lagi isu kecil. Indonesia sedang dalam kondisi darurat sampah. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus mengurangi, bahkan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dan mulai membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Maryono.
Pembangunan Rumah Pilah Sampah ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur di lingkungan perusahaan. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dapat dimanfaatkan kembali, sementara sampah residu dapat ditangani dengan lebih tepat dan bertanggung jawab. Lebih lanjut Maryono juga menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas unit kerja tertentu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh insan Pusri. Lingkungan yang bersih tidak mungkin terwujud tanpa kolaborasi seluruh elemen perusahaan.
Direktur Utama Pusri mengajak seluruh karyawan untuk memulai dari langkah sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membangun kesadaran kolektif untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 2,2 ton. Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen dan partisipasi aktif insan Pusri dalam mendukung gerakan peduli lingkungan.
Melalui kegiatan ini, Pusri menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan sekaligus membangun budaya green employee behaviour yang berkelanjutan di lingkungan perusahaan dan masyarakat sekitar.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















