Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menjelaskan bahwa perseroan kini menerapkan kebijakan ketat melalui Komite Manajemen Konstruksi untuk memastikan proyek yang dikelola memiliki skema monthly payment atau pembayaran bulanan dan menghindari proyek turnkey.
“Melalui Komite Manajemen Konstruksi, perseroan memastikan proyek yang akan dikelola tidak membebani dari segi keuangan dan rendah risiko,” tutur Ermy dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Sementara itu, sampai dengan 31 Desember 2025, emiten konstruksi pelat merah ini mengelola 63 proyek dengan total nilai kontrak Rp31,7 triliun.
Dari sisi kinerja operasional, WSKT membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp8,85 triliun pada 2025. Pendapatan tersebut dikontribusikan oleh segmen konektivitas sebesar Rp3,3 triliun, sumber daya air (SDA) Rp1,4 triliun, gedung Rp1,2 triliun, dan segmen lainnya Rp0,9 triliun.
Menariknya, meskipun beban pokok pendapatan masih mencapai Rp7,2 triliun, Waskita berhasil mengerek laba bruto sebesar 12% menjadi Rp1,58 triliun dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp1,41 triliun. Margin laba kotor (Gross Profit Margin) juga membaik ke level 18% dari posisi 13% pada 2024.
Ermy menyebut peningkatan profitabilitas ini didorong oleh efisiensi operasional melalui implementasi lean organization dan teknologi Artificial Intelligence (AI). Salah satunya adalah penggunaan Waskita Intelligent Sensing System (WISENS) yang diklaim mampu mempercepat waktu inspeksi jalan tol hingga 40%.
Selain penguatan operasional, manajemen Waskita Karya juga terus mengakselerasi penurunan liabilitas yang tercatat berkurang Rp2,21 triliun pada 2025. Langkah tersebut ditempuh melalui divestasi aset jalan tol dan anak usaha demi mengembalikan posisi WSKT sebagai kontraktor murni.
Beberapa aksi korporasi yang tuntas pada 2025 meliputi divestasi 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi, pelepasan 35% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), serta divestasi 20% saham PT Waskita Modern Realty.
Terkait restrukturisasi utang, fokus utama manajemen adalah menyelesaikan Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) senilai Rp31,65 triliun yang telah disetujui 22 kreditur perbankan.
“Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable dan adaptif terhadap tantangan industri,” pungkas Ermy.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















