Home / Berita / Wijaya Karya Bakal Nikmati 40% Laba Bisnis Properti Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Wijaya Karya Bakal Nikmati 40% Laba Bisnis Properti Kereta Cepat Jakarta-Bandung

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. akan menikmati keuntungan laba dari pembukaan kota-kota baru di sepanjang jalur kereta cepat Jakarta-Bandung.

Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana menjelaskan bahwa pengembalian investasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) bukan menjadi isu yang harus dikhawatirkan. Pasalnya, tenor pinjaman mencapai 40 tahun dan 10 pertama merupakan grace periode.

Dengan skema tersebut, Tumiyana menyebut emiten berkode saham WIKA itu dapat memperoleh cash flow atau arus kas dari proyek KCJB tanpa harus mengangsur pinjaman. Kewajiban mengembalikan pinjaman dengan bunga yang relatif kecil dihitung mulai 10 tahun kedua hingga 10 tahun keempat.

Arus kas, sambungnya, diproyeksikan datang dari penjualan tiket. Saat ini, mobilitas warga Bandung ke Jakarta atau sebaliknya terbilang sangat tinggi. Dia meyakini arus kas dari penjualan tiket masih berpotensi terus bertambah, Apalagi, setiap periode tertentu ada kenaikan harga tiket.

Selain dari penjualan tiket, Tumiyana mengatakan arus kas akan datang dari optimalisasi lahirnya kota-kota baru di sepanjang jalur KCJB. Kehadiran pengembangan kota baru di Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar, setelah diperhitungkan dengan inflasi, valuasinya ditaksir mencapai Rp362 triliun.

Dalam perkembangannya ke depan, dia memproyeksikan lini bisnis properti mampu berkontribusi 20%-30% terhadap total laba PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Kalkulasi laba yang diperoleh oleh konsorsium berkisar Rp95 triliun-Rp100 triliun.

“Sesuai porsi saham WIKA di konsorsium, perseroan bisa menikmati laba sekitar 40%,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/10/2018).

Untuk Wailini misalnya, Tumiyana mengungkapkan wilayah tersebut dapat dikembangkan kota baru yang akan menjadi sentra bisnis dan kawasan pemukiman. Daerah tersebut nantinya dapat dijangkau dari Jakarta hanya 30 menit dengan kereta cepat.

Lokasi tersebut rencananya akan dibangun kawasan bisnis berkelas internasional, MICE, medical district, serta pusat penelitan dan pengembangan yang melibatkan usaha kecil dan menengah. Pembangunan infrastruktur tersebut menjadi peluang bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya anggota konsorsium, untuk mengembangkan berbagai proyek yang akan berdampak positif bagi perseroan.

Seperti diketahui, proyek KCJB serta pengembangan Sentra Ekonomi Koridor Jakarta-Bandung merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Api Cepat antara Jakarta dan Bandung pada 6 Oktober 2015.

KCIC merupakan konsorsium gabungan antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 60% dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. 40%. Adapun, PSBI beranggotakan WIKA dengan komposisi penyertaan 38%, PT Kereta Api Indonesia (Persero) 25%, PT Perkebunan Nusantara VIII 25%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. 12%.

Pekerjaan tersebut rencananya berlangsung selama 36 bulan kalender kerja untuk pekerjaan konstruksi dan diharapkan beroperasi pada 2021. Lingkup pekerjaan WIKA dalam konsorsium yakni struktur, arsitektur, mekanikal dan elektrikal, serta lansekap.

Adapun, KCJB akan menghubungkan empat stasiun yakni Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar. Total nilai investasi proyek ini mencapai US$6,071 miliar dengan pendanaan 75% bersumber dari China Development Bank (CDB) dan 25% dari ekuitas pemegang saham KCIC, yaitu PSBI dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Sumber Bisnis.com

Check Also

WEGE Dapatkan Proyek Pembangunan Kompleks Perkantoran Bank Mandiri Senilai Rp211 Miliar

⁣ Direktur Utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) Nariman Prasetyo bersama Direktur Utama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *