Sepanjang tahun lalu, pendapatan TINS naik 6,41% menjadi Rp11,55 triliun dari yang sebelumnya Rp10,86 triliun pada 2024. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata logam timah.
Harga logam timah global tercatat naik dibandingkan tahun sebelumnya didukung oleh meningkatnya permintaan untuk semikonduktor, panel fotovoltaik, dan teknologi transisi energi lainnya. Harga rata-rata logam timah cash settlement price London Metal Exchange (LME) pada 2025 sebesar US$34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar US$30.177,45 per ton.
Dari sisi pos beban, Perseroan mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 8,41% dari Rp8,11 triliun pada 2024 menjadi Rp8,79 triliun pada 2025. Alhasil, Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp1,91 triliun dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp2,76 triliun.
“Pada tahun 2025, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,“ ujar Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro melalui siaran pers, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, pada akhir 2025, nilai aset PT Timah naik 6,75% menjadi Rp13,64 triliun dari Rp12,78 triliun pada akhir 2024. Hal ini lantaran adanya peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo pada akhir 2025.
Lebih lanjut, posisi liabilitas Perseroan sebesar Rp5,23 triliun, naik 0,80% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp5,19 triliun.
Posisi ekuitas pada 2025 sebesar Rp8,41 triliun mengalami kenaikan 10,83% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp7,59 triliun, seiring dengan dibukukannya laba pada 2025.
Restu mengatakan, kinerja keuangan Perseroan menunjukkan hasil yang baik, terlihat dari beberapa rasio keuangan penting di antaranya quick ratio sebesar 60,6%, current ratio sebesar 242,8%, debt to asset ratio sebesar 11,5%, dan debt to equity ratio sebesar 18,7%.
Sepanjang 2025, Perseroan terus melakukan upaya efisiensi dan optimalisasi biaya di antaranya dalam bentuk penurunan fixed cost melalui pengeluaran investasi yang selektif ke investasi penunjang operasi untuk memitigasi kenaikan beban depresiasi dan menjaga stabilitas arus kas.
Selain itu, Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas, sehingga dapat menekan beban bunga antara lain melalui pelaksanaan buyback atas MTN.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














