Sepanjang tahun 2025, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berhasil mencatatkan kinerja yang solid dengan membukukan pendapatan sebesar USD 959,84 juta atau setara Rp16,05 triliun. Pencapaian ini turut didukung oleh peningkatan signifikan pada volume penjualan produk baja yang mencapai 944.562 ton, tumbuh 29,0% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja positif tersebut tidak hanya tercermin dari sisi pendapatan, tetapi juga dari struktur keuangan perusahaan yang semakin sehat. Krakatau Steel mencatatkan total aset sebesar USD 2,77 miliar (Rp46,24 triliun), menunjukkan penguatan kapasitas perusahaan dalam mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha.
Di sisi lain, komitmen perusahaan dalam memperbaiki struktur permodalan terlihat dari keberhasilan menekan total liabilitas sebesar 17,04% menjadi USD 2,04 miliar (Rp34,11 triliun). Penurunan ini mencerminkan langkah strategis Krakatau Steel dalam mengelola kewajiban secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Perbaikan kinerja tersebut turut mendorong pertumbuhan signifikan pada ekuitas perusahaan. Nilai ekuitas tercatat melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi USD 725,51 juta atau sekitar Rp12,13 triliun. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa Krakatau Steel kini memiliki fondasi finansial yang semakin kokoh untuk mendukung rencana ekspansi di masa mendatang.
Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., Dr. Akbar Djohan, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kepercayaan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami sangat mensyukuri capaian ini sebagai bentuk amanah dari para pemangku kepentingan. Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah. Laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati untuk terus memastikan keberlanjutan industri baja nasional,” ujarnya.
Menatap ke depan, Krakatau Steel optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan positif melalui peningkatan utilisasi fasilitas produksi serta penguatan pangsa pasar domestik. Fokus strategis perusahaan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan sektor infrastruktur dan otomotif yang terus berkembang, sejalan dengan agenda pembangunan nasional dan percepatan hilirisasi industri menuju visi Indonesia Emas.
Sumber KSP
















