Direktur Produksi PT Pindad, Hera Rosmiati menjadi salah satu pembicara dalam acara “Women Leadership Series: Menyeimbangkan Langkah, Mengukir Jejak Bagi Masa Depan PTDI” yang diadakan pada Kamis, 4 Juni 2026 di Auditorium BJ Habibie PT Dirgantara Indonesia. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur Keuangan dan SDM PT Pindad, Tambok Parulian S., Direktur Keuangan, Manajemen Portofolio & SDM PT Len Industri (Persero) Yessy Kurnia Dyah, Direktur Bisnis dan Kerjasama Dwi Sulistiani, Direktur Keuangan & SDM PT Dirgantara Indonesia Dhias Widhiyati, dan Direktur Produksi PT PAL Indonesia Diana Rosa.
Women Leadership Series merupakan kegiatan yang diadakan oleh Srikandi PT Dirgantara Indonesia yang bertujuan untuk memberikan wawasan dalam membangun kepemimpinan berkelanjutan (sustainable leadership), personal resilience, dan keseimbangan peran sebagai perempuan, istri, dan ibu di tengah dinamika industri modern. Adapun pembicara utama dalam kegiatan ini adalah Presiden Direktur PT IBM periode 2000-2008, Betti Alisjahbana.
Dalam paparannya tentang Leading Through Transformation, Betti Alisjahbana menerangkan bahwa transformasi bukan lagi pilihan. Teknologi berkembang sangat cepat, model bisnis terus berubah, dan organisasi dituntut untuk beradaptasi lebih cepat dari sebelumnya. Transformasi akan terjadi ketika mindset berubah dan diterjemahkan menjadi perilaku hingga akhirnya menjadi membentuk budaya kerja.
“Perempuan sebagai pemimpin dalam masa transformasi harus mampu membangun rasa percaya, reconnect people serta bertumbuh di tengah tekanan, dan memperkuat kolaborasi. Para pemimpin perempuan bukanlah sekadar bagian dari transformasi melainkan penggerak terlaksananya transformasi. Transformation starts when people choose to grow,” jelas Betti Alisjahbana.
Hera Rosmiati pada sesi Leadership Sharing Session sebagai Direksi Perempuan termuda di DEFEND ID menceritakan pengalamannya bekerja di lingkungan produksi yang didominasi oleh laki-laki. Hera menyebutkan lingkungan mengajari kita terus belajar dan berkolaborasi untuk bekerja dalam koridor professional serta membuktikan perempuan mampu menjalankan perannya dengan sangat baik.
“Sehari-hari saya bergelut di pabrik dengan para senior yang notabenenya adalah laki-laki awalnya ada rasa khawatir apakah saya bisa mengikuti setiap pekerjaan. Dari situ saya belajar bagaimana bisa bertumbuh dengan banyak bertanya, melihat, dan mendengar setiap insight dari para senior. Dengan membiasakan diri untuk berdiri di “pinggir jurang” membuat kita selalu alert dan siap mengambil tantangan baru. GRIT – ketika terjatuh, harus bisa bangkit lagi. Itulah yang membangun ketangguhan sedikit demi sedikit namun pasti,” tutur Hera Rosmiati.
Sebagai penutup Hera Rosmiati menambahkan, penguat perempuan utamanya adalah bagaimana dapat berdaya, meskipun banyak tantangannya. Pilihan perempuan baik sebagai ibu, sebagai anak, sebagai perempuan Indonesia haruslah sesuai dengan kutipan “you don’t have to be everyone’s butterfly, just be a bee”, dimana perempuan harus tetap fokus pada tujuan dan “menyengat” ketika terancam atau dibutuhkan, tidak terdistraksi oleh provokasi tidak jelas.
Sumber PINDAD













