Perbankan syariah berhasil mencatat pertumbuhan di atas rata-rata perbankan konvensional dan perbankan nasional. Sampai dengan Juli 2020, pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga perbankan syariah tercatat masing-masing 9,88%, 10,23%, dan 8,78% secara tahunan.
Di sisi lain,Ā market shareĀ perbankan syariah masih belum menunjukkan kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Pada sisi aset,Ā market shareĀ perbankan syariah pada Juli 2020 sebesar 6,11%, dari sebelumnya sebesar 5,78% pada Desember 2017, 5,96% pada Desember 2018, dan 6,17% pada 2019. Dari sisi pembiayaan,Ā market shareĀ perbankan syariah pada Juli 2020 sebesar 6,71%, dari sebelumnya 6,07% pada Desember 2017, 6,10% pada Desember 2018, dan 6,37% pada Desember 2019.
Ketua Umum Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Toni EB Subari pernah menyampaikan perbankan syariah berpeluang untuk terus bertumbuh. Adapun, literasi dan digitalisasi menjadi kunci pengembangan perbankan syariah.
Indeks literasi dan inklusi bank syariah saat ini masing-masing sebesar 8,11% dan 11,06%, masih di bawah perbankan nasional. Selain itu, bank syariah memiliki keterbatasan jaringan terlihat dari jumlah outlet 2.332 hingga Juni 2020, jauh dari bank konvensional sebanyak 28.775.
“Kata kuncinya adalah literasi. Sementara keterbatasan jaringan solusinya lewat digital,” katanya dalam webinar pekan lalu.
Lantas, bagaimana strategi bank-bank syariah?
PT Bank Syariah Mandiri, anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., menyatakan terus meningkatkan alokasi belanja modal untuk pengembangan teknologi informasi perbankan.
Riko Wardhana, Group Head Sales and Partnership Group Mandiri Syariah, menyampaikanĀ capital expenditureĀ atau capex untuk pengembangan digital terus meningkat setiap tahun. Alokasi capex digital juga mendominasi total investasi IT perseroan.
Dia menyebutkan investasi IT perseroan selama 2019 mencapai Rp270 miliar. Pada tahun berikutnya, investasi IT meningkat hampir 30% secaraĀ year on yearĀ (yoy).
Riko menyebut pada 2020 perseroan menganggarkan investasi IT sebesar Rp350 miliar. “Dengan lebih dari 70% masing-masing tahun adalah untuk kebutuhan investasi digital,” terangnya
Fokus pengembangan digitalisasi telah dimulai sejak 2018. Achmad Syafii, Direktur IT, Operations & Digital Banking Mandiri Syariah, menyampaikan perseroan terus melakukan pengembangan dan peningkatan infrastruktur digital agar dapat memenuhi kebutuhan nasabah terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19.
Dalam transformasi digital Mandiri Syariah,Ā digital bankingĀ memainkan peranan besar dalam akuisisi nasabah baru sebesar 40% dan transaksi mencapai 95% melalui digital. Sampai dengan 19 September 2020, terdapat 1,4 juta user Mandiri SyariahĀ mobile. Sebanyak 1.500 rekening per hari dilakukan melalui aplikasi tersebut.
Sepanjang 2018-2020, transaksi e-channel telah tumbuh 67%. Per Juni 2020, transaksi mobile tumbuh 94% secara yoy, sedangkan transaksi cabang turun 36% yoy. “Saat ini 40% pembukaan rekening melalui online instant. Dan 140.000 rekening yang kita bukukan secaraĀ online,” katanya akhir bulan kemarin.
Senada, PT Bank BNI Syariah juga terus meningkatkan anggaran belanja modal IT yang di antaranya untuk pengembangan digital. Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto menyampaikan perseroan meningkatkan capex IT menjadi lebih dari Rp100 miliar.
Sebelumnya, kata dia, alokasi capex untuk TI setiap tahunnya kurang dari nilai tersebut. Pengembangan digital juga tidak hanya dilakukan pada bisnis proses maupun aplikasiĀ mobile banking, tetapi juga melalui kolaborasi denganĀ fintechĀ danĀ e-commerce.
“Bank syariah berperan sebagai fasilitator dalam proses pemulihan ekonomi, khususnya melayani kebutuhan transaksi finansial melalui inovasi digital,” sebutnya.
Adaptasi digital yang lebih masif juga menjadi salah satu fokus OJK dalam arah pengembangan keuangan syariah ke depan. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan pandemi telah mempercepat proses digitalisasi dalam ekosistem ekonomi syariah dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.
Teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk membuka akses keuangan ke daerah-daerah yang belum terjangkau. “Saat ini kita sudah mulai mendigitalisasi lembaga keuangan mikro. Digitalisasi tidak hanya di sisi akses keuangannya saja tapi dari hulu ke hilir sampai dengan digitalisasi proses bisnis UMKM nya hingga pemasaran melaluiĀ e-commerce,” katanya awal pekan lalu.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














