PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel mengungkapkan strategi menghadapi kenaikan bahan baku fiber optik.
Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) mengungkapkan kenaikan harga high-density polyethylene (HDPE) sebesar 15–17% akibat konflik di Timur Tengah.
Selain bisnis menara, Mitratel juga memiliki lini usaha fiber optik. Hingga akhir 2025, Mitratel mencatat panjang fiber optic billable mencapai 70.618 kilometer (km).
Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan, kenaikan harga bahan baku, khususnya HDPE, merupakan dinamika global yang dihadapi seluruh pelaku industri infrastruktur digital.
“Mitratel merespons kondisi ini secara adaptif dengan tetap menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan ekspansi,” kata Hendra kepada Bisnis pada Kamis (16/4/2026).
Hendra menjelaskan, perseroan mengoptimalkan desain jaringan, meningkatkan utilisasi aset eksis, serta memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis dan vendor guna menjaga stabilitas rantai pasok.
Selain itu, Mitratel menerapkan pendekatan investasi yang lebih selektif dan berbasis kebutuhan pasar untuk memastikan setiap belanja modal tetap produktif. Dengan strategi tersebut, Mitratel tetap berkomitmen mendukung pembangunan jaringan dan layanan telekomunikasi secara berkelanjutan di seluruh Indonesia, termasuk memperluas konektivitas di luar Jawa tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Hendra juga memastikan perseroan tetap menjaga arah pertumbuhan yang prudent dan terukur. “Penyesuaian dilakukan pada prioritas investasi, bukan pada penurunan kualitas maupun penghentian ekspansi,” katanya.
Dia menambahkan, Mitratel memprioritaskan proyek strategis dengan visibilitas permintaan yang kuat serta menerapkan disiplin alokasi modal guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesehatan arus kas.
Selain itu, Mitratel terus mengembangkan model kemitraan dan infrastructure sharing agar ekspansi tetap berjalan efisien dari sisi permodalan. Pendekatan ini mencerminkan komitmen perseroan dalam mendukung pengembangan jaringan telekomunikasi nasional secara berkelanjutan, sekaligus menjaga kualitas layanan dan kinerja finansial.
Hendra memastikan kenaikan harga material tidak berdampak langsung terhadap performa jaringan, baik pada infrastruktur yang telah beroperasi maupun pembangunan jaringan baru. Untuk jaringan yang sudah ada, performa lebih ditentukan oleh kualitas desain, keandalan perangkat, serta efektivitas operasional dan pemeliharaan.
Sementara itu, pada pembangunan baru dan ekspansi fiber, Mitratel tetap menjaga standar kualitas dan reliability tanpa menurunkan spesifikasi teknis, dengan mengelola biaya melalui efisiensi desain dan eksekusi.
Selain itu, kontrak jangka panjang dengan operator serta penerapan operational excellence, termasuk monitoring berbasis sistem dan preventive maintenance, memastikan kualitas layanan tetap stabil dan andal.
“Dengan demikian, kenaikan harga material lebih berdampak pada efisiensi investasi dan perencanaan yang lebih matang, bukan pada kualitas layanan kepada masyarakat,” kata Hendra.
Dia menilai risiko gangguan layanan dalam jangka pendek tetap terkendali karena kualitas layanan lebih ditentukan oleh kinerja operasional dan pemeliharaan jaringan yang sudah berjalan. Perseroan memastikan seluruh infrastruktur dikelola dengan standar reliability tinggi melalui sistem monitoring terintegrasi dan pendekatan preventive maintenance.
Di sisi lain, Mitratel melihat dinamika ini sebagai momentum untuk memperkuat efisiensi dan inovasi model bisnis. Dengan pendekatan investasi yang lebih selektif dan berbasis kebutuhan pasar, pembangunan jaringan tetap berjalan berkelanjutan dan relevan.
“Mitratel tetap berkomitmen untuk mendukung perluasan jaringan dan pemerataan layanan telekomunikasi di seluruh Indonesia, sekaligus menjaga kualitas layanan tetap stabil bagi operator dan masyarakat,” katanya.
Mitratel mempertahankan pertumbuhan kinerja di tengah tekanan industri dengan mengandalkan bisnis menara sebagai penopang utama, sementara lini fiber mulai menjadi sumber ekspansi baru.
Sepanjang 2025, Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp9,53 triliun, tumbuh 2,4% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis menara yang masih mendominasi dengan kontribusi 81,8% terhadap total pendapatan.
Di sisi lain, lini fiber mulai menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan 18,1% secara tahunan dan kontribusi sebesar 6% terhadap total pendapatan.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















