Berdasarkan data laporan keuangan yang dirilis perusahaan, raihan laba bersih pada kuartal I/2026 mencapai Rp761,49 juta. Angka ini menandai titik balik signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025, saat perusahaan masih mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp5,92 miliar.
Pertumbuhan laba ini ditopang oleh kenaikan penjualan bersih yang mencapai Rp221,09 miliar per 31 Maret 2026. Realisasi tersebut tumbuh 10,17% dibandingkan capaian kuartal I/2025 yang tercatat sebesar Rp200,67 miliar.
“Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan. Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya untuk menjaga profitabilitas perusahaan,” ujar Plt. Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Ida menjelaskan bahwa efisiensi biaya produksi menjadi faktor penting yang berkontribusi pada pertumbuhan laba PEHA. Beban pokok penjualan (COGS) tercatat hanya naik 5,04% yoy, jauh di bawah laju pertumbuhan pendapatan yang melampaui angka 10%.
Kesenjangan antara pertumbuhan pendapatan dan efisiensi biaya produksi ini mendongkrak laba kotor perusahaan menjadi Rp103,96 miliar. Nilai laba kotor tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 16,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp89,17 miliar.
Selain efisiensi manufaktur, Phapros juga menunjukkan disiplin dalam pengelolaan beban usaha yang tercatat hanya tumbuh 7,35% secara tahunan. Sinergi antara penguatan top-line dan efisiensi di seluruh lini operasional menjadi motor utama perbaikan struktur margin profitabilitas perusahaan di tengah tekanan ekonomi global.
Segmen Obat Generik Bermerek (OGB) muncul sebagai kontributor utama pertumbuhan dengan performa yang sangat dominan. Penjualan segmen OGB melonjak drastis sebesar 59% menjadi Rp128,70 miliar, naik dari posisi kuartal I/2025 yang sebesar Rp80,88 miliar.
Peningkatan permintaan pada produk-produk pendukung program pemerintah, seperti Obat Anti Tuberkulosis (TBC) dan Tablet Tambah Darah, menjadi pemicu utama. Produk tersebut difokuskan untuk mengatasi masalah kesehatan nasional seperti anemia dan stunting yang menjadi prioritas jangka panjang pemerintah Indonesia.
Ida menambahkan bahwa perusahaan tetap waspada terhadap dinamika makroekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Manajemen telah menyiapkan protokol mitigasi risiko untuk menghadapi fluktuasi harga bahan baku akibat faktor geopolitik melalui kontrak pembelian strategis sejak awal periode tahun berjalan.
“Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun dan terus memantau perkembangan agar tetap adaptif. Tujuannya agar target penjualan, biaya dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai RKAP bisa diamankan,” ujarnya.
Dari sisi likuiditas, manajemen PEHA berhasil mencatatkan perbaikan arus kas operasional yang sangat signifikan. Arus kas perusahaan per 31 Maret 2026 tercatat positif sebesar Rp37,2 miliar, melonjak 289% dibandingkan posisi tahun lalu yang masih defisit Rp19,6 miliar.
Saldo kas di akhir periode juga mengalami kenaikan sebesar 165% dibandingkan akhir Maret 2025. Kondisi finansial yang sehat ini memberikan ruang bagi Phapros untuk terus melakukan inovasi produk dan optimalisasi semua kanal penjualan guna mempertahankan kinerja positif hingga akhir tahun 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















